RADARSOLO.COM - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan Trading Halt BEI Hari Ini setelah IHSG anjlok tajam pada awal perdagangan Kamis (29/1/2026).
Penghentian sementara transaksi dilakukan pukul 09.26 WIB di sistem Jakarta Automated Trading System (JATS).
Keputusan tersebut diambil menyusul tekanan jual besar-besaran yang membuat IHSG anjlok hingga menyentuh penurunan 8 persen dalam satu sesi perdagangan.
Pada perdagangan sesi I, IHSG tercatat melemah 665,89 poin atau 8,00 persen ke level 7.654,66.
Bersamaan dengan itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar turut terkoreksi 62,28 poin atau 7,66 persen ke posisi 750,25.
BEI menyampaikan bahwa perdagangan akan kembali dibuka sekitar pukul 09.56 WIB tanpa adanya perubahan jadwal perdagangan reguler.
Baca Juga: ISHG Hari Ini Anjlok Lebih 10 Persen, BEI Kembali Aktifkan Trading Halt Pagi Ini
Penyebab Trading Halt BEI Hari Ini
Penerapan Trading Halt BEI Hari Ini mengacu pada aturan bursa terkait penurunan tajam IHSG dalam satu hari perdagangan. BEI memiliki tahapan perlindungan pasar sebagai berikut:
-
Trading halt 30 menit jika IHSG anjlok lebih dari 8 persen.
-
Trading halt 30 menit tambahan jika penurunan berlanjut hingga lebih dari 15 persen.
-
Trading suspend apabila IHSG turun lebih dari 20 persen, yang dapat berlangsung hingga akhir sesi atau lebih dari satu hari perdagangan dengan persetujuan OJK.
Penyesuaian kebijakan ini bertujuan memberi waktu bagi investor untuk mencerna informasi pasar dan menyusun strategi investasi secara lebih rasional di tengah volatilitas tinggi.
Penyebab IHSG Anjlok Hari Ini
Tekanan terhadap pasar saham domestik sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan.
IHSG dibuka melemah 357,76 poin atau 4,30 persen ke posisi 7.962,79. Indeks LQ45 juga terkoreksi 4,12 persen ke level 779,05.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut pelaku pasar masih mencermati respons otoritas terhadap pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Secara teknikal, IHSG berpeluang menguji area 8.250 hingga 8.000. Jika level psikologis 8.000 ditembus, maka ada potensi pelemahan lanjutan ke kisaran 7.850,” ujar Ratna, Kamis (29/1/2026).
Ratna menjelaskan, MSCI akan kembali meninjau status aksesibilitas pasar Indonesia jika hingga Mei 2026 belum terlihat perbaikan signifikan. Kondisi tersebut berisiko menurunkan bobot saham Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets menjadi Frontier Market.
Jika skenario itu terjadi, arus keluar dana asing diperkirakan meningkat dan berpotensi semakin menekan IHSG serta nilai tukar rupiah.
Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Saham
Menurut Ratna, penurunan status MSCI dapat berdampak luas, mulai dari berkurangnya likuiditas pasar, meningkatnya persepsi risiko negara, hingga naiknya biaya pendanaan bagi pemerintah dan korporasi.
Ia menegaskan, IHSG anjlok umumnya tidak dipicu oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi sentimen global dan domestik.
Dalam kondisi Hari Ini, salah satu pemicu utama tekanan pasar adalah pengumuman MSCI terkait perubahan metodologi perhitungan free float atau porsi saham yang dapat diperdagangkan di pasar.
Kebijakan tersebut memicu kepanikan pelaku pasar, terutama karena sejumlah saham unggulan Indonesia—termasuk BBCA—merupakan bagian dari indeks global MSCI yang menjadi acuan investor internasional.
Editor : Nur Pramudito