RADARSOLO.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo mencatat inflasi secara tahunan atau year-on-year (YoY) sebesar 2,76 persen pada Januari 2026. Inflasi tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,64.
Inflasi tahunan ini dipicu oleh kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat, dengan tekanan paling besar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencatat kenaikan cukup tinggi.
“Saya ingin menyampaikan beberapa poin yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi inflasi di Kota Solo," kata Statistisi Ahli Madya BPS Kota Solo Istanti Fungsional, Senin (2/2).
Pertama, harga emas mencapai angka tertinggi pada Januari 2026. Kedua, beberapa komoditas hortikultura seperti cabai rawit, cabai merah, dan bawang merah mengalami peningkatan pasokan. Ketiga, tarif listrik PT PLN tidak mengalami kenaikan.
Istanti menambahkan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencatat kenaikan indeks paling menonjol dibanding kelompok lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa biaya hunian dan kebutuhan dasar rumah tangga masih menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi tahunan di Solo.
“Komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi tahunan pada Januari 2026 antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, kendaraan bermotor, telur ayam ras, daging ayam ras, nasi dengan lauk, minyak goreng, biaya pendidikan, upah asisten rumah tangga, serta rokok,” paparnya.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat sebagai salah satu kelompok dengan kenaikan indeks tertinggi. Hal ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap berbagai layanan jasa di tengah aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak.
Di sisi lain, Istanti menyebutkan terdapat sejumlah komoditas yang memberikan sumbangan deflasi tahunan, seperti cabai merah, cabai rawit, bawang putih, tarif kereta api, tarif angkutan udara, bensin, telepon seluler, serta beberapa kebutuhan rumah tangga lainnya. Penurunan harga komoditas tersebut turut menahan laju inflasi agar tidak lebih tinggi.
“Kondisi deflasi bulanan ini menunjukkan adanya penurunan harga secara umum dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun secara tahunan tekanan inflasi masih terjadi akibat kenaikan harga pada kelompok pengeluaran tertentu,” pungkasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto