Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Petani Buah Naga Banyuwangi dari Ladang Menuju Pasar Lebih Luas, Naik Kelas Lewat Program Klasterku Hidupku BRI

Syahaamah Fikria • Selasa, 3 Februari 2026 | 23:57 WIB
Kelompok Petani Buah Naga Banyuwangi atau Panaba.
Kelompok Petani Buah Naga Banyuwangi atau Panaba.

RADARSOLO.COM – Pertanian masih menjadi denyut utama kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Di tengah lahan yang subur dan iklim yang mendukung, para petani terus berupaya beradaptasi dengan tantangan zaman, mulai dari persoalan teknis budidaya hingga fluktuasi harga pasar.

Dari proses panjang tersebut, lahirlah Kelompok Petani Buah Naga Banyuwangi atau Panaba.

Sebuah klaster petani yang kini mampu meningkatkan skala usaha dan memperluas pasar berkat pendampingan Program Klasterku Hidupku dari BRI.

Kelompok Panaba dipelopori oleh Edy, petani yang melihat potensi besar buah naga sebagai komoditas unggulan Banyuwangi.

Ia kemudian mengajak petani lain untuk membudidayakan buah naga secara kolektif, tidak hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat posisi tawar petani.

“Klaster buah naga ini mulai kami bentuk pada 2016," kata Edy.

Saat itu, ucap dia, jumlah tanaman buah naga di Banyuwangi meningkat pesat.

Namun, di sisi lain muncul persoalan serius seperti serangan penyakit dan harga yang jatuh karena produksi melimpah.

"Dari situ kami sepakat membentuk Klaster Petani Buah Naga Panaba agar masalah bisa dihadapi bersama,” tutur Edy.

Sejak klaster terbentuk, para petani tidak lagi bergerak sendiri.

Panaba menjadi wadah diskusi, pertukaran informasi, sekaligus ruang untuk menyamakan langkah dalam menghadapi persoalan budidaya di lapangan.

Melalui klaster, para petani juga saling menguatkan dalam menjaga kualitas dan kesinambungan produksi.

Tak hanya fokus pada aspek teknis pertanian, Klaster Panaba juga berperan penting dalam menjaga stabilitas harga buah naga di tingkat petani.

Edy menjelaskan, klaster menetapkan pedoman harga agar petani tidak dirugikan oleh permainan pasar.

“Pedagang yang bergabung dengan klaster wajib mengikuti panduan harga. Misalnya harga pasar Rp10.000 per kilogram, maka mereka minimal membeli dari petani Rp7.000," jelaa Edy.

Pedagang di luar klaster sering memanfaatkan kondisi dengan membeli jauh lebih murah.

"Untuk anggota klaster, kami berikan kode dan aturan harga agar petani terlindungi,” imbuh dia.

Tumbuh Lebih Kuat Bersama Program Klasterku Hidupku BRI

Seiring berkembangnya Klaster Panaba, kebutuhan akan dukungan yang lebih terstruktur pun semakin terasa.

Terutama dalam hal permodalan dan peningkatan kapasitas usaha.

Sejak 2017, Klaster Panaba mendapat pendampingan melalui Program Klasterku Hidupku yang diinisiasi oleh BRI.

“Dengan adanya pendampingan dari BRI, petani jadi lebih berani mengembangkan usaha. Terlebih kalau ingin menerapkan teknologi, itu butuh modal besar. Kalau dijalani sendiri, tentu berat,” ujar Edy.

Salah satu fokus awal pendampingan adalah penguatan budidaya buah naga melalui pemanfaatan lampu untuk mengatur siklus produksi.

Inovasi ini memungkinkan tanaman buah naga berbuah di luar musim, sehingga produksi tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi alam.

Teknologi lampu tersebut sebenarnya telah mulai dikembangkan sejak 2013 dan terbukti mampu meningkatkan konsistensi serta kualitas panen.

"Bentuk pemberdayaan dari BRI tidak hanya soal modal. Ada pelatihan, termasuk mendatangkan pakar agar petani bisa belajar langsung," kata Edy.

Selain itu, akses pinjaman juga dipermudah.

Petani yang telah memiliki tanaman buah naga bisa mengajukan pinjaman tanpa proses yang rumit dan tanpa agunan yang memberatkan.

Ia menilai, pendampingan tersebut memberi dampak signifikan terhadap kepercayaan diri petani.

“Petani jadi lebih yakin dan berani mengembangkan usahanya. Yang paling penting, petani tidak lagi berjalan sendiri,” tambahnya.

Di sisi lain, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan, Program Klasterku Hidupku dirancang sebagai strategi pemberdayaan untuk mendorong UMKM.

Khususnya di sektor produksi, agar mampu naik kelas dan berdaya saing.

“Melalui pendekatan klaster, BRI tidak hanya menyediakan akses permodalan, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang mendorong kolaborasi, peningkatan skala produksi, hingga penguatan daya saing di tingkat lokal,” ujarnya.

Ia berharap, klaster usaha yang berhasil berkembang dapat menjadi contoh bagi pelaku UMKM di daerah lain.

“Kami berharap kisah Klaster Usaha Panaba di Banyuwangi bisa menjadi referensi dan inspirasi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah,” kata Akhmad.

BRI mencatat, hingga akhir 2025, sebanyak 42.682 klaster usaha telah dibina melalui program tersebut.

Pendampingan dilakukan lewat 3.001 kegiatan pemberdayaan, yang mencakup pelatihan usaha serta dukungan sarana dan prasarana produksi.

Dengan fokus pada sektor-sektor yang memiliki daya ungkit besar terhadap perekonomian daerah. (*/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#BRI #Inklusi Keuangan #BBRI #Klaster Usaha #Pemberdayaan UMKM