RADARSOLO.COM - Tepat pada tanggal 20 Februari 2026, pasangan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil GUbernur Taj Yasin Maimoen genap satu tahun memimpin Provinsi Jawa Tengah.
Selama rentang waktu tersebut, roda pemerintahan diwarnai oleh berbagai dinamika yang menantang, sekaligus torehan prestasi yang signifikan.
Salah satu ujian terbesar di awal kepemimpinan mereka adalah rentetan bencana hidrometeorologi.
Mulai dari banjir bandang dan tanggul jebol di Demak, rob di Sayung, tanah gerak di Tegal, hingga longsor di lereng Gunung Slamet (Banjarnegara dan Cilacap).
Namun, melalui kesigapan dan koordinasi yang baik, Pemprov Jateng berhasil memastikan penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana berjalan secara simultan.
Di tengah tantangan alam tersebut, Luthfi dan Yasin tetap fokus mengeksekusi program-program pro-rakyat. Beberapa terobosan yang dirasakan langsung oleh warga antara lain:
- Pemeriksaan kesehatan gratis melalui program Dokter Spesialis Keliling (Speling).
- Pendidikan gratis melalui sekolah kemitraan dan beasiswa santri.
- Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
- Mengusung Collaborative Government
Gubernur Ahmad Luthfi menyadari bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendirian.
Ia pun menggagas konsep Collaborative Government (pemerintahan kolaboratif) dengan menggandeng berbagai pihak, mulai dari kepala daerah tingkat II, perguruan tinggi, pengusaha, investor, hingga tokoh masyarakat.
"Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini adalah cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah. Nilai gotong royong dan kebersamaan menjadi napas kita," tegas Luthfi.
Capaian Ekonomi dan Rekor Investasi
Ikhtiar kolaboratif ini membuahkan hasil yang terukur. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jateng pada triwulan IV tahun 2025 menembus 5,37% (y-on-y).
Angka ini melampaui rata-rata pertumbuhan nasional (5,11%) dan menjadikan Jateng sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Baca Juga: Bertemu Dubes dan Pengusaha India, Gubernur Ahmad Luthfi Tawarkan Investasi di Sejumlah Sektor
Lonjakan ekonomi ini ditopang oleh realisasi investasi tahun 2025 yang mencapai rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir, yakni sebesar Rp88,50 triliun.
Berikut adalah rincian capaian investasi dan dampaknya pada perekonomian:
- Penanaman Modal Asing (PMA): Rp50,86 triliun.
- Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Rp37,64 triliun.
- Jumlah Proyek: 105.078 proyek.
- Serapan Tenaga Kerja: 418.138 orang.
- PDRB per Kapita: Naik 5,9% menjadi Rp50,82 juta.
Kinerja impresif ini menuai pujian dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan yang mengapresiasi keberhasilan Luthfi menjadikan Jawa Tengah sebagai magnet bagi para investor.
Pengentasan Kemiskinan dan PR ke Depan
Pertumbuhan makro ekonomi tersebut berimplikasi langsung pada kesejahteraan warga.
Angka kemiskinan di Jateng berhasil ditekan dari 9,48% (Maret 2025) menjadi 9,39% (September 2025).
Jumlah penduduk miskin turun puluhan ribu jiwa, menyisakan 3,34 juta orang.
Gini ratio pun menyempit di angka 0,350, menandakan ketimpangan pendapatan yang semakin berkurang.
Dampak nyata ini dirasakan oleh Setia Puji, warga Kabupaten Brebes.
Ia adalah satu dari 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Brebes yang resmi "lulus" dari garis kemiskinan pada Agustus 2025.
"Bantuan pemerintah sangat meringankan beban kami. Tapi saya termotivasi untuk mandiri. Kini, lewat usaha bakso keliling, ekonomi keluarga kami sudah mampu," ujar Setia bangga.
Meski sepanjang 2025 Pemprov Jateng memborong 40 penghargaan dari berbagai lembaga, pekerjaan rumah (PR) masih menanti.
Wakil Gubernur Taj Yasin menyoroti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jateng yang masih di angka 74,77.
"Penurunan angka kemiskinan harus dimasifkan lagi. Anggaran harus diarahkan untuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik, termasuk bagi kelompok disabilitas," tegas Gus Yasin.
Bagi Luthfi, deretan penghargaan dan capaian statistik bukanlah tujuan akhir, melainkan pengingat untuk terus melayani dan menjaga integritas.
Membangun Jawa Tengah, menurutnya, adalah proses ngopeni (merawat).
"Inilah alasan mengapa kolaborasi tidak boleh berhenti, karena tugas melayani rakyat adalah amanah yang tidak ada ujungnya," pungkas Luthfi. (*)
Editor : Tri wahyu Cahyono