Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Inovasi Desa Banyuanyar Boyolali Bertransformasi Jadi Green Smart Village Lewat Dukungan Desa BRILian

Syahaamah Fikria • Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:50 WIB
Banyuanyar, Kabupaten Boyolali bertransformasi jadi desa ramah lingkungan lewat pemberdayaan Desa BRILiaN.
Banyuanyar, Kabupaten Boyolali bertransformasi jadi desa ramah lingkungan lewat pemberdayaan Desa BRILiaN.

 

RADARSOLO.COM – Desa Banyuanyar di Kabupaten Boyolali menunjukkan transformasi signifikan dari wilayah dengan keterbatasan potensi menjadi desa percontohan berbasis kolaborasi dan keberlanjutan. 

Konsep tersebut kini dikenal sebagai Banyuanyar Green Smart Village, sebuah model desa pintar yang mengedepankan kekuatan masyarakat dan ramah lingkungan.

Kepala Desa Banyuanyar Komarudin menjelaskan, perubahan ini tidak terjadi secara instan. 

Melalui pendekatan pembangunan pentahelix, seluruh elemen masyarakat terlibat aktif dalam membangun desa secara bertahap.

Baca Juga: Transaction Banking BRI Makin Kokoh, Volume Taknsaksi Qlola bt BRI Tembus Rp2.141,37 Triliun hingga Februari 2026

“Dengan moto kami, rumah besar kami, Banyuanyar Green Smart Village, perjalanan ini tidak mudah. Namun perlahan kami mulai membangun kampung UMKM sebagai fondasi ekonomi desa,” ujarnya.

Kampung UMKM dengan Konsep One Kampung One Product

Salah satu pilar utama pengembangan desa adalah pembentukan kampung UMKM berbasis konsep One Kampung One Product (OKOP). 

Setiap kampung memiliki produk unggulan dan identitas masing-masing, seperti kampung kopi, kampung susu, kampung madu, kampung ekonomi kreatif, hingga kampung biofarmaka.

Seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga pelaku usaha, berasal dari masyarakat setempat. 

Konsep ini menegaskan bahwa pengembangan ekonomi desa sepenuhnya dimiliki oleh warga, bukan pemerintah.

BUMDes Kampus Kopi dan Wisata Edukasi

Penguatan ekonomi lokal juga didukung oleh keberadaan BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar yang mengelola berbagai unit usaha berbasis masyarakat. 

Direktur BUMDes Musli menyebut, sektor wisata menjadi salah satu keunggulan desa, terutama wisata edukasi berbasis komunitas.

“Kami melihat Banyuanyar memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata, khususnya wisata edukasi yang melibatkan masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga: Bakpao Gandum RoyalKueID, Camilan Praktis yang Tumbuh Berkat Dukungan Ekosistem Pemberdayaan BRI

Kampung Susu hingga Biofarmaka, Inovasi Terus Berkembang

Di Kampung Susu, pengembangan ekonomi berbasis peternakan sapi perah mengalami peningkatan nilai tambah. 

Ketua klaster Kampung Susu Pramono mengatakan, produk olahan seperti susu pasteurisasi, yoghurt, hingga pie susu kini diproduksi di “Omah Susu Koboy”.

“Dengan mengolah sendiri, nilai ekonomi susu meningkat dan pendapatan peternak juga bertambah dibanding hanya menjual ke pengepul,” ungkapnya.

Sementara itu, di klaster kopi seperti Kedai Barendo, para petani mulai mandiri dalam mengolah dan memasarkan hasil panen mereka. 

Kedai ini menjadi simbol kemandirian sekaligus penguatan ekonomi berbasis komunitas.

Di sisi lain, klaster biofarmaka yang digerakkan kelompok ibu-ibu juga berkembang pesat. 

Mereka mengolah tanaman obat keluarga menjadi produk pangan dan minuman modern. 

Inovasi ini berawal dari Omah Toga dan kini terus berkembang melalui berbagai pameran serta kunjungan wisata.

Baca Juga: BRI Permudah Tarik Tunai Saldo GoPay Tanpa Kartu, Kini Bisa di 19 Ribu Jaringan ATM & CRM di Seluruh Indonesia

Dukungan BRI Lewat Program Desa BRILian

Perjalanan Banyuanyar semakin kuat dengan dukungan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Desa BRILian. 

BRI memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari penguatan UMKM, peningkatan kapasitas SDM, hingga pengembangan branding, packaging, digitalisasi, dan promosi melalui berbagai event.

Corporate Secretary BRI Dhanny menjelaskan, Desa BRILian merupakan program pemberdayaan desa yang berfokus pada empat pilar utama, yaitu penguatan BUMDes dan koperasi, digitalisasi, keberlanjutan (sustainability), serta inovasi.

“Hingga saat ini, lebih dari 5.200 desa di Indonesia telah mendapatkan pendampingan untuk memperkuat ketahanan ekonomi berbasis desa,” jelasnya.

Dhanny menegaskan, kisah Banyuanyar menjadi bukti nyata bahwa desa mampu berkembang dengan mengandalkan kolaborasi, inovasi, dan semangat masyarakat.

“Banyuanyar Green Smart Village bukan sekadar konsep, tetapi sudah menjadi inspirasi nyata pembangunan desa berbasis kemandirian dan keberlanjutan,” tegasnya.

Transformasi ini menunjukkan bahwa potensi desa dapat berkembang optimal ketika seluruh elemen bergerak bersama, dari kampung ke kampung, serta dari satu produk unggulan ke produk lainnya. (ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#BRI #Desa BRILian #BBRI #pemberdayaan desa