RADARSOLO.COM – Desa Sausu Tambu menjadi contoh bagaimana potensi desa pesisir dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Didukung kekayaan sumber daya alam, keberagaman budaya, serta penguatan ekosistem ekonomi melalui program Desa BRILiaN dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), desa ini terus berbenah dalam mengembangkan sektor pariwisata dan berbagai klaster usaha produktif.
Berlokasi di Kabupaten Parigi Moutong, Desa Sausu Tambu memiliki luas wilayah sekitar 1.380 hektare dengan masyarakat yang heterogen.
Budaya Kaili dan Hindu hidup berdampingan secara harmonis. Mayoritas warga menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pertanian, mulai dari petani padi, kelapa, hingga kakao.
Baca Juga: Borong Tiga Penghargaan Kemenkeu 2025, BRI Mantapkan Posisi sebagai Dealer Utama SBN Terbaik
Selain itu, desa ini juga memiliki potensi wisata unggulan Karosondaya yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Seiring pengembangan tersebut, Desa Sausu Tambu berhasil meraih prestasi dengan masuk peringkat ke-9 dari 15 desa wisata terbaik tingkat nasional.
Capaian ini menunjukkan bahwa pengelolaan potensi desa secara terintegrasi mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Penguatan ekonomi desa tidak lepas dari peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai motor penggerak usaha.
Baca Juga: Dukung Asta Cita, Penyaluran KUR BRI Tembus Rp31,42 Triliun pada Akhir Februari 2026
Melalui BUMDes Karosondaya, berbagai unit usaha dikembangkan, seperti layanan BRILink, wisata jembatan trekking, dermaga wisata, hingga rencana pengembangan kawasan wisata Tanjung.
Upaya ini turut memperkuat ekosistem pariwisata sekaligus membuka peluang usaha baru bagi warga.
Dalam pelaksanaannya, pengelolaan sektor pariwisata dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), serta Kelompok Tani Hutan (KTH).
Sinergi ini tidak hanya menjaga keberlanjutan destinasi wisata, tapi juga memastikan pemerataan manfaat ekonomi, termasuk bagi nelayan yang mendapatkan tambahan penghasilan.
Selain pariwisata, sektor ekonomi desa juga ditopang oleh klaster usaha berbasis komoditas unggulan.
Kakao menjadi salah satu tulang punggung ekonomi, dengan hampir seluruh warga terlibat dalam budidaya berbagai varietas.
Aktivitas ini turut meningkatkan produktivitas sekaligus membuka lapangan kerja.
Baca Juga: Tembus 15 Besar Nasional Desa BRILiaN, Pajambon Sukses Integrasikan Sektor Pertanian dan Pariwisata
Di sisi lain, sektor perikanan tetap menjadi andalan masyarakat pesisir dengan hasil utama berupa ikan tongkol dan ikan lajang.
Komoditas kelapa juga terus berkembang, dari yang sebelumnya hanya diolah menjadi kopra kini mampu menembus pasar luar daerah.
Hal ini menunjukkan peningkatan kapasitas usaha masyarakat yang semakin adaptif terhadap peluang pasar.
Untuk mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi, akses layanan keuangan menjadi faktor penting.
BRI hadir melalui layanan perbankan inklusif seperti AgenBRILink, aplikasi BRImo, serta dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha desa agar dapat mengembangkan usahanya secara optimal.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan bahwa program Desa BRILiaN merupakan wujud komitmen BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui program Desa BRILiaN, BRI mendorong penguatan kelembagaan desa, digitalisasi layanan keuangan, serta pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Pendampingan ini dilakukan secara berkelanjutan agar desa mampu tumbuh mandiri dan menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, hingga saat ini program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.200 desa di Indonesia dan terus diperluas guna menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai wilayah.
Dengan sinergi antara potensi lokal, penguatan kelembagaan desa, serta dukungan berkelanjutan dari BRI, Desa Sausu Tambu kini berkembang sebagai desa pesisir yang adaptif, produktif, dan berdaya saing.
Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa desa mampu maju melalui kolaborasi dan optimalisasi potensi yang dimiliki.
Editor : Syahaamah Fikria