Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Inovasi dan Digital Marketing Bawa Lurik Pedan Klaten Go Internasional

Alfida Nurcholisah • Kamis, 16 April 2026 | 17:18 WIB
Model-mocel cantik kenakan kain lurik dalam sebuah fashion show di The Sunan Hotel Solo, Rabu (15/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Model-mocel cantik kenakan kain lurik dalam sebuah fashion show di The Sunan Hotel Solo, Rabu (15/4). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Industri kain tenun lurik asal Pedan, Klaten berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah global.

Melalui inovasi produk serta penguatan pemasaran digital, lurik berhasil menembus pangsa pasar dunia.

Pengelola sekaligus desainer Lurik Prasojo, Maharani Setyawan menjelaskan, usaha tenunnya sudah berdiri sejak 1950. Awalnya hanya memproduksi selimut, serbet, dan kain lurik.

“Permintaan kain lurik saat itu hanya sekira dua persen. Lebih banyak yang pesan selimut,” jelas Maharani.

Maharani menambahkan, pemasaran awalnya hanya dari mulut ke mulut. Puncaknya pada masa pandemi Covid-19, perusahaannya mulai beralih ke pemasaran digital.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Mantri BRI di Lombok: Sri Malasarin, Perempuan Tangguh Penggerak Ekonomi Desa

“Dulu kami menggunakan metode gethok tular, lalu semakin dikenal. Setelah pandemi, daya beli masyarakat turun dan akses terbatas. Kami mulai beralih ke digital,” imbuhnya.

Terbukti, transisi ini berhasil mendongkrak penjualan. Kontribusi besar hadir dari konten-konten digital. Dibarengi dengan penjualan offline yang ikut menggeliat.

“Sampai sekarang pendapatan banyak dari konten digital. Dari live sosmed, penjualan di toko online kami juga meningkat. Meskipun pada akhirnya offline juga ramai,” bebernya.

Baca Juga: Fashion and Luncheon Hadir Di The Sunan Hotel Solo, Angkat Tenun Dan Lurik Dalam Balutan Kartini

Selain penguatan pemasaran, inovasi dilakukan dengan membawa kain lurik ke ranah fashion untuk memperluas pasar. Upaya ini juga bagian dari pengenalan wastra tradisional kepada masyarakat luas.

“Saya ingin tenun itu ada masanya bisa dinikmati dan digunakan semua masyarakat. Ketika masuk ke fashion, antusiasmenya lebih banyak dan lebih mudah mengenalkan wastra Indonesia,” ungkapnya.

Produk lurik yang dikembangkan menggunakan benang bersertifikat halal. Berbahan serat alami dan sempat mengikuti ajang fashion di Milan, Italia dan Paris, Prancis.

“Terakhir kami digandeng BPJPH untuk Indonesia Global Halal Fashion. Saat itu saya menenun dengan benang bersertifikat halal, lalu lolos kurasi sampai ke Milan dan Paris,” ujarnya.

Dengan kondisi ekonomi yang sedang deflasi, Maharani mengubah strategi pasarnya pada seragam instansi atau perusahaan. Segmen ini dinilai lebih stabil, karena telah memiliki alokasi anggaran.

Baca Juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 16 April 2026: Turun Tipis, Ini Rincian Terbarunya

“Sekarang kami ubah strategi ke seragam, karena sudah ada budgeting di instansi. Itu cukup membantu daya beli yang sedang turun,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan ke depan yang dihadapi adalah meningkatkan minat generasi muda terhadap penggunaan kain lurik. Ini bagian dari upaya menjaga keberlanjutan industri tenun tradisional.

“Tantangannya sekarang, bagaimana generasi muda mau memakai lurik. Bukan bangga saja, tapi harus mau memakai. Harapannya ada dukungan dari pemerintah, misalnya imbauan memakai tenun semonggu sekali seperti batik,” tandasnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#lurik pedan #fashion lurik #lurik #Lurik Klaten