RADARSOLO.COM – Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diprediksi akan bergerak fluktuatif pada pembukaan awal pekan, Senin, 27 April 2026.
Meski sempat mencatatkan lonjakan signifikan pada akhir pekan lalu, pergerakan logam mulia ini masih dibayangi oleh ketidakpastian tensi geopolitik global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Berdasarkan data dari laman Logam Mulia, harga emas Antam pada perdagangan Sabtu (25/4/2026) berada di level Rp2.825.000 per gram, setelah mengalami kenaikan sebesar Rp20.000 dari hari sebelumnya.
Namun, pengamat pasar menilai posisi ini masih sangat rentan terhadap aksi ambil untung (profit taking).
Baca Juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 25 April 2026 Naik Rp 20.000 per Gram, Cek Daftar Terbaru
Waspadai Titik Support Rp2,8 Juta
Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa emas Antam masih memiliki risiko terkoreksi.
Dalam keterangannya pada Minggu (26/4/2026), ia menyebutkan bahwa jika sentimen negatif mendominasi, harga bisa turun kembali ke level psikologis.
"Jika terjadi penurunan, support pertama logam mulia Antam berada di Rp2.800.000 per gram. Jika tekanan berlanjut, support kedua diprediksi menyentuh Rp2.790.000 per gram," jelas Ibrahim.
Namun, optimisme tetap ada. Ibrahim menambahkan, jika permintaan fisik tetap kuat, emas Antam berpeluang menguji level resisten pertama di Rp2.865.000 per gram.
Ini dengan target jangka menengah yang lebih optimistis di kisaran Rp2.980.000 per gram.
Harga Buyback dan Pajak
Bagi masyarakat yang berencana menjual kembali emasnya, harga buyback Antam saat ini berada di level Rp2.636.000 per gram.
Perlu diingat, sesuai PMK No 34/PMK.10/2017, transaksi buyback di atas Rp10 juta dikenakan PPh 22 sebesar 1,5% bagi pemilik NPWP.
Serta PPh 22 sebesar 3,0% bagi non-NPWP.
Investasi emas di awal pekan besok menuntut kecermatan ekstra.
Investor disarankan memantau perkembangan berita dari Timur Tengah dan data inflasi AS yang akan menjadi kemudi utama pergerakan harga logam mulia di pasar domestik.
Sentimen Global
Ketidakpastian harga emas di dalam negeri tidak terlepas dari situasi di Timur Tengah.
Perang di Iran yang meletus sejak akhir Februari lalu belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.
Upaya diplomasi Amerika Serikat yang berencana mengirim utusan ke Pakistan guna menemui petinggi Iran sejauh ini masih ditanggapi dingin oleh Teheran.
Kondisi ini memicu beberapa dampak krusial bagi pasar komoditas:
Lonjakan Harga Energi: Harga minyak jenis Brent naik ke level USD105,33 per barel, tertinggi sejak awal April.
Hambatan Kebijakan Moneter: Tingginya harga energi memicu inflasi, yang membuat bank sentral global (The Fed) diprediksi akan kesulitan menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat.
Daya Tarik Emas: Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), daya tarik emas cenderung tertahan saat suku bunga masih tinggi.
Baca Juga: Dapat Sanksi KLH, Pemkot Solo Wajib Hentikan Praktik 'Open Dumping' di TPA Putri Cempo
Secara teknikal global, harga emas dunia di pasar spot ditutup menguat tipis 0,24% di level USD4.709,27 per troy ons pada Jumat lalu.
Indikator Stochastic RSI menunjukkan posisi jenuh jual (oversold), yang secara teori membuka peluang terjadinya rebound teknis pada pekan depan dengan target resisten terdekat di USD4.749 per troy ons.
Editor : Syahaamah Fikria