RADARSOLO.COM – Harga minyak goreng di sejumlah pasar tradisional di Solo Raya terus mengalami kenaikan sejak sebelum Lebaran. Kondisi tersebut dikeluhkan pedagang sembako karena berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat.
Salah seorang pedagang sembako di Pasar Kadipolo Sumi mengatakan, kenaikan terjadi pada berbagai merek minyak goreng kemasan maupun Minyakita.
“Harga minyak goreng sekarang memang melambung sejak sebelum lebaran. Dulu Sanco 2 liter harganya Rp 39 ribu, sekarang jadi Rp 47ribu-Rp 48 ribu. Yang ukuran 1 liter sekarang Rp 25 ribu-Rp 26 ribu, padahal sebelumnya masih Rp 21 ribu-Rp 22 ribu,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).
Baca Juga: Harga Aspal Melonjak 40 Persen, DPUPR Solo Hitung Ulang Anggaran Proyek Jalan
Tak hanya minyak nonsubsidi, harga Minyakita juga mengalami kenaikan. Sumi mengungkapkan, harga Minyakita yang sebelumnya Rp 17 ribu per liter kini naik menjadi Rp 20 ribu.
“Dari sananya belinya hampir Rp 235 ribu satu pack. Stok sebenarnya aman, cuma memang harganya naik,” terangnya.
Baca Juga: Kebersamaan di Balik Pengecoran Jalan, Satgas TMMD Sragen dan Warga Sarapan Bersama di Tengah Sawah
Kenaikan harga tersebut membuat jumlah pembeli sedikit menurun. Meski demikian, kebutuhan minyak goreng tetap menjadi prioritas sejumlah masyarakat. “Kalau dari pembeli memang sedikit menurun. Mungkin ada yang mengurangi ya pakai minyak masaknya, tapi tetap ada yang beli karena memang butuh,” jelasnya.
Menurutnya, kenaikan harga juga bisa jadi dipengaruhi biaya kemasan plastik yang naik. Untuk stok barang, dia mengambil dari Pasar Legi maupun dari sales yang datang langsung ke pasar.
Sementara itu, Pemimpin Cabang Bulog Surakarta Nanang Harianto memastikan, stok minyak goreng di wilayah Solo masih mencukupi.
“Stok kami saat ini masih tersedia 88 ribu liter dan minggu depan ada tambahan pasokan dari produsen,” ujarnya.
Dia menyebut, harga minyak yang disalurkan Bulog diharga Rp 14.500 per liter dan dijual ke konsumen maksimal Rp 15.700 per liter dan distribusi terus dilakukan secara rutin ke pasar rakyat.
“Kami terus distribusi rutin ke pasar-pasar rakyat seperti Pasar Legi, Pasar Nusukan, Pasar Jongke, Pasar Gede, termasuk pasar-pasar di luar Kota Solo,” katanya.
“Minyakita yang ditugaskan ke Bulog hanya 35 persen dari produsen, sedangkan 65 persen disalurkan ke distributor. Kalau secara aturan memang tidak boleh di atas HET,” tegasnya.
Nanang menegaskan, Bulog bersama Dinas Perdagangan dan Satgas Pangan terus melakukan pemantauan harga dan distribusi secara rutin di lapangan. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy