RADARSOLO.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus melemah mengingatkan kenangan pahit 28 tahun silam.
Terjadi krisis moneter yang berujung pada lengsernya penguasa Orde Baru, Presiden Soeharto.
Pada 1998, mata uang Negeri Paman Sam melonjak berkali-kali lipat dalam waktu singkat.
Nilai tukar rupiah yang semula stabil di kisaran Rp2.500 per dolar AS, ambruk hingga puncaknya menyentuh Rp16.800 per dolar AS.
Kondisi tersebut menandai masa transisi pemerintahan Indonesia.
Presiden B.J. Habibie menjadi kepala negara pertama yang memimpin Indonesia pasca-runtuhnya Orde Baru.
Meskipun hanya memegang kendali pemerintahan selama 1 tahun 5 bulan, penemu Crack Theory di bidang penerbangan ini menorehkan catatan impresif di bidang ekonomi.
Baca Juga: 6.271 Koperasi Merah Putih di Jateng Beroperasi, 2.769 Gedung Telah Terbangun
Di bawah kepemimpinannya, rupiah berhasil menguat tajam sebesar 34 persen terhadap dolar AS, bergerak dari posisi Rp16.800 dan berhasil ditekan hingga ke level Rp7.385 per dolar AS.
Keberhasilan meredam gejolak dolar AS saat itu tidak lepas dari dua langkah strategis yang diambil oleh pemerintahan Habibie:
- Restrukturisasi Perbankan: Pada 21 Agustus 1998, pemerintah membangun kembali fondasi bank yang sehat melalui skema merger beberapa bank menjadi satu entitas baru yang kuat, yang kini dikenal sebagai Bank Mandiri.
- Independensi Bank Indonesia (BI): Pemerintah secara resmi memisahkan Bank Indonesia dari intervensi pemerintah. Langkah ini mengubah status BI menjadi lembaga independen demi mengembalikan kepercayaan pasar.
Kebijakan-kebijakan tersebut sukses meyakinkan pasar global.
Baca Juga: Rupiah Sentuh Level Terendah, Presiden Prabowo: Rakyat Desa Nggak Pakai Dolar Kok
Dampak positifnya, tekanan terhadap Rupiah berangsur hilang secara alami tanpa perlu intervensi langsung dari BI, yang pada masa itu memang belum memiliki kewenangan formal untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.
B.J. Habibie memang telah berpulang. Namun, kebijakan strategisnya membuat Rupiah kembali perkasa di hadapan Dolar AS, tak akan pernah dilupakan.
Potongan video wawancara eksklusif bareng Najwa Shihab dalam program Mata Najwa di Metro TV, kembali viral.
Berikut petikan pernyataan B.J Habibie kala diwawancara Najwa Shihab:
“Saya kan menghadapi inflasi tinggi, suku bunga tinggi, nilai rupiah anjlok hanya 20 persen dari nilainya. Yang tadi hanya saya sudah melampaui Rp16 ribu mau ke Rp20 ribu,”.
“Negara tetangga, saya sebut saja namanya Lee Kwan Yew (Perdana Menteri Singapura) dia mengatakan apa, kalau habib wah akan melampaui Rp20 ribu. Orang antri, makanan kurang, PHK banyak, itu kan lebih penting dari pesawat terbang itu (proyek pembuatan pesawat terbang N25),”
“Saya dahulukan ini dulu (mengatasi krisis moneter). Jadi saya ngalah untuk menang. Yang menang itu siapa, rakyat,”. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono