RADARSOLO.COM - Sejumlah brand asing terus menggempur pangsa pasar gitar tanah air. Ada Gibson, Fender, Ibanez, Taylor, Cort, Epiphone, hingga Cowboy. Namun, Artisan Guitar Indonesia tidak gentar. Mereka siap menggebrak dominasi brand-brand kenamaan tersebut.
Deru mesin bor beradu dengan mesin amplas di sebuah workshop di Kecamatan Baki, Sukoharjo, belum lama ini. Mesin-mesin itu dioperasikan oleh tangan-tangan terampil yang menghasilkan sebuah produk berkualitas.
Di sudut ruangan lainnya, berderet meja-meja yang diatasnya terdapat tumpukan senar, potongan fretwire, serta tuning machines. Meja ini dihuni sejumlah pekerja yang mengenakan rompi warna hijau. Mereka dengan cekatan merangkai perangkat keras pada gitar.
Baca Juga: Link Download Jadwal Piala Dunia 2026 Lengkap dari Fase Grup hingga Final
Inilah sekelumit gambaran proses pembuatan gitar di markas besar (mabes) Artisan Guitar Indonesia. Brand lokal yang berani “berperang” dengan produsen gitar impor.
Berdiri pada 6 Januari 2022, Artisan hadir dengan semangat besar. Mereka ingin membuktikan bahwa karya anak bangsa mampu bersaing. Ada tekad kuat untuk mengangkat kualitas produk lokal agar mendapat pengakuan lebih luas.
“Artisan Guitar Indonesia ingin menunjukkan bahwa gitar buatan anak bangsa, khususnya dari Solo memiliki kualitas yang mampu bersaing dengan merek-merek internasional,” kata Manajer Artisan Guitar Indonesia Panji Nata Kusuma.
Ya, selama ini mindset masyarakat, tak terkecuali musisi Indonesia lebih familiar dengan produk gitar impor. Padahal kualitas gitar buatan dalam negeri tak kalah bersaing. Baik dari segi material, pengerjaan, maupun karakter suara.
Nah, tujuan utama Artisan bukan sekadar menjual produk. Lebih dari itu, ingin membangun mindset bahwa produk lokal layak mendapat tempat di pasar nasional maupun global.
“Apalagi di Solo dan sekitarnya, memiliki tradisi panjang dalam hal kerajinan tangan alias handycraft. Modal tersebut menjadi kekuatan kami dalam menghadirkan gitar dengan kualitas yang kompetitif,” imbuh Panji.
Mewujudkan visi besar tersebut, perjalanan Artisan bukan tanpa rintangan. Tak semudah membalik telapak tangan.
Selain kondisi pasar yang sedang lesu, juga terbentur literasi masyarakat akan pentingnya memilih gitar berkualitas. Bukan semata-mata soal harga selangit.
Haru diakui, masih banyak calon konsumen yang beranggapan gitar berkualitas harus dibanderol dengan harga mahal. Padahal, produk lokal seperti Artisan menawarkan instrumen dengan harga lebih terjangkau, tanpa mengorbankan mutu.
“Tantangan terbesar yang kami hadapi saat ini adalah kondisi pasar, seiring dengan menurunnya kebiasaan masyarakat dalam bermain alat musik. Maka kami mengedukasi masyarakat, bahwa ada gitar yang harganya terjangkau dengan kualitas bagus. Jadi tidak perlu beli mahal,” ujarnya.
Baca Juga: Masyarakat Sering Dadakan Beli Hewan Kurban, Pedagang Perbanyak Stok
Apapun tantangan yang membentang, Artisan optimistis bisa diperhitungkan di belantika alat musik nasional, bahkan internasional. Buktinya, sudah banyak customer yang melirik produk ini. Mulai dari musisi, sekolah musik, hingga para konten kreator digital.
“Influencer di TikTok juga menjadi pengguna produk Artisan. Selain itu, sejumlah musisi dari berbagai genre ikut menggunakan gitar buatan kami,” beber Panji.
Kepercayaan dari berbagai kalangan tersebut menjadi dorongan besar bagi Artisan untuk terus menjaga kualitas produk. Sembari berharap bisa sejajar dengan brand-brand besar dunia dan dapat dinikmati oleh seluruh pecinta musik. “Harapan kami sederhana, yaitu agar karya anak bangsa tidak lagi dipandang sebelah mata,” jelas Panji. (hj)
Editor : Niko auglandy