RADARSOLO.COM – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang mengerek suku bunga acuan (BI Rate) ke angka 5,25 persen mulai memicu kecemasan di sektor perbankan daerah.
Di tengah bayang-bayang pengetatan likuiditas tersebut, PT BPR Djoko Tingkir (Perseroda) Sragen justru memilih langkah berani dengan pasang badan demi menjaga denyut nadi ekonomi wong cilik melalui program Kredit Usaha Rakyat Daerah (Kurda) bunga 0 persen.
Direktur Utama BPR Djoko Tingkir Titon Darmasto menegaskan, kenaikan BI Rate tidak akan menyenggol program stimulus yang digagas bersama Pemerintah Kabupaten Sragen.
”Kenaikan itu tidak berpengaruh (ke KURDA 0 persen). Bahkan untuk nasabah kredit umum lainnya, sampai hari ini kami belum ada kebijakan menaikkan suku bunga. Kami kaji dulu,” ujar Titon saat ditemui pasca penyerahan hewan kurban, Kamis (28/5/2026).
Langkah BPR Djoko Tingkir yang enggan latah mengekor kebijakan bank sentral ini didasari oleh kondisi internal yang diklaim masih sangat sehat.
Titon menyebut struktur dana nasabah di bank milik daerah tersebut sangat likuid, ditopang oleh tingkat kepercayaan masyarakat Sragen yang tetap tinggi.
Baca Juga: Diduga Depresi, Anak di Jatiyoso Karanganyar Nekat Tebas Dua Sapi Milik Orang Tuanya
”Kami usahakan tetap pakai tarif bunga yang lama. Tujuannya jelas, mendukung supaya sektor industri ekonomi produktif di Sragen bisa terus naik, bukan malah tercekik,” imbuhnya.
Namun, yang menjadi sorotan kritis adalah pemanfaatan alokasi anggaran subsidi dari APBD Sragen. Untuk program Kurda super mikro dengan bunga 0 persen ini, dana yang dikucurkan terbilang kecil, yakni Rp 250 juta.
Angka ini separo lebih kecil dibandingkan alokasi Kurda bunga 3 persen yang mendapatkan porsi Rp 500 juta.
SRBaca Juga: Refleksi Hari Jadi Ke-280 Sragen: Anggaran Cupet, Eks Kantor Pemda Disebut Mirip Rumah Genderuwo
Dengan anggaran yang terbatas, ketepatan sasaran menjadi pertaruhan besar. BPR Djoko Tingkir pun harus memutar otak agar stimulus ini tidak menguap di tengah jalan.
Strateginya, menggandeng Dinas Sosial (Dinsos) Sragen untuk memilah data kedeputian miskin ekstrem.
”Penyalurannya kami fokuskan pada basis data Desil 1 sampai Desil 5. Tim kami di seluruh cabang akan bergerak berbasis data tersebut agar tepat sasaran,” urai Titon. (din/adi)
Editor : Adi Pras