Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

IHSG Akhir Pekan Tergelincir ke Level 6.127 Meski Grup Barito Prajogo Pangestu Meroket, Ditekan Aksi Jual Saham Bank Jumbo

Syahaamah Fikria • Jumat, 29 Mei 2026 | 18:21 WIB
Ilustrasi investor tengah mengamati pergerakan harga saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).
Ilustrasi investor tengah mengamati pergerakan harga saham di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI).

RADARSOLO.COM – Pasar saham Indonesia gagal mempertahankan momentum penguatannya pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (29/5/2026). 

Sempat memberikan sinyal optimisme dengan melesat ke zona hijau pada pertengahan sesi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru terkena aksi ambil untung dan berakhir melemah tipis di zona merah. 

Koreksi ini utamanya dipicu oleh rontoknya harga saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big caps) yang menjadi motor penggerak utama pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data kompilasi dari pasar modal, indeks komposit ditutup melemah sebesar 2 poin atau terkoreksi 0,05% ke posisi 6.127. 

Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini 29 Mei 2026 Dibuka Menguat ke Level Rp17.827 per Dolar AS

Sepanjang perdagangan hari ini, pergerakan indeks terpantau sangat fluktuatif.

Di mana IHSG sempat merangkak naik hingga menyentuh level tertinggi hariannya di angka 6.230 sebelum akhirnya merosot ke level terendah di posisi 6.111 menjelang bel penutupan.

Aktivitas transaksi di lantai bursa hari ini mencatatkan volume yang sangat masif, mencapai 46,96 miliar lembar saham yang berpindah tangan dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2,37 juta kali. 

Adapun total nilai transaksi agregat pada akhir pekan ini menembus angka jumbo senilai Rp49,94 triliun. 

Baca Juga: Sejumlah Unit Usaha KDKMP di Wonogiri Sudah Jalan, Ada Perikanan hingga Jual Beras

Secara keseluruhan, pergerakan emiten didominasi oleh tren penurunan, dengan rincian 409 saham melemah, 271 saham berhasil menguat, dan 137 saham bergerak stagnan.

 

Sektor Keuangan Lunglai Dipimpin Kemerosotan BBCA dan BBRI

Sektor perbankan menjadi pemberat utama (laggard) yang menyeret IHSG ke zona merah akibat maraknya tekanan jual dari para investor. 

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin pelemahan di sektor finansial setelah anjlok 4,6% ke level Rp5.700 per lembar, dengan mencatatkan nilai transaksi fantastis mencapai Rp5,8 triliun.

Koreksi serupa juga dialami oleh jajaran bank pelat merah:

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Merosot sebesar 3,9% ke harga Rp2.950 dengan total nilai transaksi mencapai Rp3,2 triliun.

Baca Juga: Polres Wonogiri Gelar Upacara Kenaikan Pangkat Pengabdian Ipda Supiyati dan Purna Tugas Kapolsek Girimarto

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI): Melemah 3,65% menuju level Rp3.700 per lembar lewat nilai transaksi Rp595,3 miliar.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Terpangkas 1,21% ke posisi Rp4.080 dengan pembukuan nilai transaksi sebesar Rp1,8 triliun.

Saham Grup Barito Bangkit, Cetak Lonjakan di Tengah Efek Rebalancing MSCI

Di kala bursa domestik menghadapi tekanan, emiten-emiten yang berada di bawah naungan Grup Barito milik taipan Prajogo Pangestu justru tampil perkasa dan merajai jajaran saham peraih keuntungan tertinggi (top gainers).

Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) memimpin reli dengan lonjakan maksimal hingga 25% ke posisi Rp3.300. 

Kenaikan signifikan ini juga diikuti oleh anak usaha grup lainnya:

PT Petrosea Tbk (PTRO): Melambung 24,87% ke harga Rp4.670.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Melonjak sebesar 24,76% mendarat di Rp1.940.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Menguat 24,75% menuju Rp630.

PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Ikut terangkat sebesar 12,58% ke level Rp850.

Hanya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang bergerak anomali di dalam internal grup setelah terkoreksi 6,05% ke harga Rp1.785. 

Baca Juga: BRI Luncurkan Promo KKB The Elite dengan Suku Bunga Flat 3,75 Persen untuk Tenor 4 Tahun

Di luar emiten Barito, peringkat teratas top gainers harian juga ditempati oleh saham KJEN yang melesat 34,18% serta RATU yang naik 25%.

Fenomena meroketnya saham-saham Prajogo Pangestu ini terbilang menarik lantaran bertepatan dengan pengumuman penyesuaian (rebalancing) indeks global komparatif Morgan Stanley Capital International (MSCI). 

Tiga emiten utama mereka, yakni BREN, TPIA, dan CUAN baru saja dinyatakan keluar dari portofolio MSCI Global Standard Index bersama beberapa saham raksasa lain.

Seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Kendati didepak dari indeks utama tersebut, mayoritas emiten eks-MSCI ini justru mencatatkan performa teknis yang solid. 

Terbukti, saham AMMN sukses menguat 6,11% ke level Rp3.300 dan DSSA meroket hingga 13,89%. 

Sebaliknya, saham pengelola ritel Alfamart (AMRT) menjadi sedikit dari saham terdampak yang masih memerah dengan pelemahan 3,36% ke posisi Rp1.150, meski posisinya kini masih dipertahankan masuk ke dalam kategori MSCI Global Small Cap.

Editor : Syahaamah Fikria
#Mei 2026 #indeks harga saham gabungan #IHSG melemah #IHSG