RADARSOLO.COM – Dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kussudyarsana menilai, pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 18 ribu per dolar AS (USD) tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi makro.
Tetapi juga dipengaruhi menurunnya kepercayaan pasar yang mendorong masyarakat dan investor beralih menyimpan aset dalam mata uang dolar.
Menurutnya, ketika muncul keraguan terhadap prospek ekonomi nasional, banyak pelaku usaha maupun masyarakat memilih mengonversi tabungan dan asetnya dari rupiah ke dolar AS. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar meningkat tajam di pasar.
”Mereka mengonversi dari rupiah ke dolar. Ketika permintaan dolar meningkat sementara ketersediaannya terbatas, otomatis harga dolar menjadi semakin mahal,” ujar Kussudyarsana, Jumat (5/6).
Ia menjelaskan, fenomena ini diperkuat oleh berbagai sentimen pasar. Mulai dari tingginya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, defisit anggaran, hingga keraguan terhadap efektivitas sejumlah program belanja negara.
Di sisi lain, suku bunga tinggi di Amerika Serikat juga membuat aset berbsssis dolar semakin menarik bagi investor.
Menurut Kussudyarsana, aspek kepercayaan menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan investor maupun masyarakat dalam memilih menyimpan aset.
”Dari sisi kepercayaan, ada banyak pertanyaan di masyarakat. Daya beli dirasakan sedang sulit, tetapi data pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen. Kondisi ini membuat investor menjadi lebih hati-hati melihat prospek ekonomi Indonesia,” katanya.
Akibatnya, aliran modal yang masuk ke Indonesia berkurang, sementara kebutuhan terhadap dolar terus meningkat. Kondisi ini semakin menekan nilai tukar rupiah.
”Ketika investor kurang tertarik menanamkan modalnya di Indonesia, pasokan dolar yang masuk menjadi berkurang. Di saat yang sama kebutuhan dolar meningkat, sehingga nilai tukar rupiah mengalami tekanan,” jelasnya.
Untuk meredam gejolak tersebut, Kussudyarsana menilai Bank Indonesia perlu melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menambah pasokan dolar.
”Biasanya Bank Indonesia akan menggelontorkan dolar ke pasar sehingga suplai dolar bertambah. Ketika suplainya banyak, harapannya harga dolar bisa turun dan nilai tukar rupiah menjadi lebih stabil,” ujarnya.
Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga dapat menggunakan instrumen suku bunga dan meningkatkan daya tarik instrumen keuangan berbasis rupiah.
”Resep lainnya adalah meningkatkan yield atau imbal hasil instrumen seperti SBN sehingga investor tertarik menempatkan dana di sana. Dengan begitu jumlah rupiah yang beredar bisa berkurang dan nilai tukar terhadap dolar menjadi lebih seimbang,” tambahnya.
Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini 2 Juni 2026 Dibuka Melemah ke Level Rp17.880 per Dolar AS
Ia menambahkan, dampak pelemahan rupiah pada akhirnya dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang impor dan menurunnya daya beli.
”Produk impor akan menjadi lebih mahal. Pada akhirnya masyarakat yang merasakan karena harga barang meningkat dan daya beli menurun,” katanya.
Karena itu, ia menilai pemerintah dan Bank Indonesia perlu menjaga optimisme pasar melalui kebijakan yang tepat serta komunikasi publik yang mampu meningkatkan kepercayaan investor.
”Uang itu refleksi ketangguhan ekonomi. Ketika investor optimistis terhadap ekonomi Indonesia, tekanan terhadap rupiah bisa kurang,” tandasnya. (alf/adi)
Editor : fery ardi susanto