RADARSOLO.COM - Sejumlah pedagang buah di Pasar Gede Solo mulai merasakan dampak kenaikan harga buah impor dalam beberapa hari terakhir.
Kenaikan ini terjadi pada berbagai komoditas seperti jeruk, apel, anggur hingga leci, seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Pedagang buah Pasar Gede Din Rahmani mengatakan, harga buah impor dari distributor naik antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per karton.
Kenaikan tersebut baru terjadi sekitar dua hari terakhir sehingga belum sepenuhnya dirasakan konsumen karena pedagang masih menjual stok lama dengan harga sebelumnya.
Baca Juga: Dampak Kenaikan Harga BBM Di Solo, Antrean Pertalite Mengular
"Sekarang jeruk masih Rp 55 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram, apel Rp 45 ribu sampai Rp 50 ribu, dan anggur Rp 85 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram. Kalau harga dari distributor terus naik ya kemungkinan harga jual juga ikut naik," ujarnya, Kamis (11/6).
Meski demikian, pedagang tidak berani langsung menaikkan harga secara signifikan karena khawatir pembeli berkurang.
Mereka juga membatasi stok, terutama untuk buah impor yang perputarannya lebih lambat.
Menurutnya, kenaikan harga buah impor tersebut berdampak pada penjualan dalam sepekan terakhir.
Ia mengaku mengalami penurunan omzet hingga 30 persen dibanding kondisi sebelum dolae naik.
"Kami tidak berani menyimpan banyak stok, paling satu sampai dua dus saja. Harapannya harga bisa turun lagi dan tidak terlalu banyak beban pajak sehingga masyarakat," katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan admin Toko Buah Brawijaya Nurillah Fitri Wulandari. Ia menyebut, buah leci menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling tinggi.
Jika sebelumnya satu krat berisi sekitar lima kilogram dijual Rp 280 ribu, kini harganya mencapai Rp 360 ribu per krat.
"Sementara apel, anggur dan jeruk naik sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per karton, tidak separah leci," ujarnya.
Nurillah mengungkapkan, tokonya yang menjadi mitra grosir bagi 20 SPPG masih tertolong dengan banyaknya permintaan dari beberapa dapur.
Namun, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi pada pembeli grosir rumahan.
"Kalau dulu ada yang berani mengambil satu sampai dua kuintal, sekarang rata-rata hanya 30 sampai 50 kilogram. Untuk dapur MBG biasanya pesan melon 100 sampai 200 kilogram per SPPG, sedangkan jeruk bisa tujuh sampai sembilan dus tergantung jumlah penerima manfaat," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pedagang Buah Pasar Gede Jumadi mengatakan, informasi kenaikan harga baru diterima para pedagang sekira pukul 02.00 dini hari.
Dampaknya baru bisa terlihat setelah pasokan baru masuk ke pasar pada siang hari.
"Secara umum memang ada kenaikan harga. Importir mengikuti perubahan nilai dolar dan ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Tetapi harga di lapangan tidak selalu sama karena ada sistem potongan dan penyesuaian bagi pelanggan besar," katanya.
Menurutnya, Pasar Gede menjadi pusat distribusi buah yang memasok hingga tujuh kabupaten di wilayah Solo Raya dan sebagian wilayah Jawa Tengah selatan termasuk Cilacap.
Karena itu para pedagang berupaya menjaga agar kenaikan harga tidak langsung membebani konsumen.
Ia mengungkapkan selama lima hari terakhir omzet pedagang terus menurun dan dalam dua hari terakhir penurunannya semakin terasa.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, sebanyak 17 pedagang buah di Pasar Gede sepakat menjual produk dengan margin lebih rendah dibanding biasanya.
Baca Juga: Desa Ketapanrame Makin Bersinar, BRI Peduli Salurkan Bantuan Pengembangan Dorong Wisata dan Edukasi
"Kami sepakat mengalah. Bahkan ada yang menjual selisih Rp 2.500 lebih murah dibanding harga pedagang lain agar pembeli tetap datang. Buah memang kebutuhan sekunder, jadi kalau harga terlalu tinggi masyarakat akan menunda membeli," ujarnya.
Jumadi menambahkan para pedagang berusaha menjaga stabilitas harga agar suasana pasar tetap kondusif dan masyarakat tidak khawatir berlebihan terhadap isu kenaikan harga buah impor.
"Yang terpenting masyarakat tetap bisa mengonsumsi buah. Kalau pasar mulai sepi biasanya harga juga kami sesuaikan agar daya beli tetap terjaga," terangnya.
Salah seorang pembeli Janah Sukirno mengungkapkan, ia membeli buah untuk kebutuhan pribadi setiap harinya.
"Saya nyetok sampai satu minggu untuk belanja buah. Menurut saya buah ini sangat penting daripada makan nasi. Kalau bisa ya jangan sampai naik lagi, karena semua naik termasuk kebutuhan sembako sampai BBM. Harapannya semuanya stabil, karena gaji kita kan enggak naik," ujarnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susanto