Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Berbekal Modal Awal Rp50 Ribu, Cinta Batik Semarang Kini Tembus Pasar Internasional Lewat LinkUMKM BRI

Tri wahyu Cahyono • Minggu, 14 Juni 2026 | 10:54 WIB
Cinta Batik Semarang, rumah produksi batik lokal asal Kota Semarang yang merintis usaha sejak tahun 2006 dan kini telah menjangkau konsumen domestik hingga pasar mancanegara dengan pendampingan LinkUMKM BRI. (ISTIMEWA)
Cinta Batik Semarang, rumah produksi batik lokal asal Kota Semarang yang merintis usaha sejak tahun 2006 dan kini telah menjangkau konsumen domestik hingga pasar mancanegara dengan pendampingan LinkUMKM BRI. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM-PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mengoptimalkan pendampingan terhadap sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lewat program penguatan kapasitas serta perluasan akses pasar.

Salah satu pelaku usaha yang mencatatkan pertumbuhan positif adalah Cinta Batik Semarang, rumah produksi batik lokal asal Kota Semarang yang merintis usaha sejak tahun 2006 dan kini telah menjangkau konsumen domestik hingga pasar mancanegara.

Pemilik Cinta Batik Semarang Iin Windhi Indah Tjahjani menjelaskan, pendirian usaha ini berawal dari keikutsertaannya dalam program pelatihan membatik yang diinisiasi oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang guna menghidupkan kembali eksistensi batik khas Semarang.

Baca Juga: Berawal dari Pesanan Kerabat di Amsterdam, Mlatiwangi Kembangkan Tas Serat Alam hingga Tembus Pasar Internasional Berkat Berkat LinkUMKM BRI

Dalam perkembangannya, rumah produksi ini memfokuskan lini produknya pada jenis batik tulis warna alam yang menggunakan bahan pewarna ramah lingkungan dengan formulasi harga yang tetap kompetitif.

Operasional usaha tersebut diawali dari keterbatasan modal awal sebesar Rp50 ribu dan penggunaan fasilitas kerja yang masih sederhana.

Keterbatasan akses konsultasi teknis pada masa awal usaha disiasati oleh Iin dengan aktif menghadiri berbagai ajang pameran industri untuk memperluas referensi desain sekaligus membenahi kualitas produksi.

Langkah penguatan manajemen bisnis mulai berjalan terarah setelah perusahaan terintegrasi dengan ekosistem digital binaan perbankan.

“Mengenal LinkUMKM dari Rumah BUMN BRI, salah satu alasan yang membuat kita bergabung yaitu dikarenakan ada banyak kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan usaha kita,” kata Iin Windhi Indah Tjahjani memberikan konfirmasi.

Untuk menunjang kelancaran ekosistem transaksi harian, Cinta Batik Semarang menerapkan digitalisasi pembayaran menggunakan fasilitas QRIS serta pemanfaatan tabungan BRI.

Baca Juga: BRI Siap Gelontorkan Rp500 Miliar untuk Buyback Saham BBRI, Optimistis Kinerja Tetap Kuat

Sistem pemasaran saat ini berjalan melalui skema multi-kanal yang mengombinasikan penjualan langsung secara offline, toko daring di marketplace, keikutsertaan pameran, hingga jalinan kemitraan business-to-business (B2B).

Guna menjaga nilai eksklusivitas di mata konsumen, setiap koleksi kain batik diproduksi dalam volume yang terbatas (limited edition).

Hingga periode akhir Maret 2026, platform LinkUMKM tercatat telah diakses dan dimanfaatkan oleh lebih dari 15,57 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia sebagai sarana peningkatan kelas usaha secara daring. Platform digital ini menyediakan enam pilar fitur utama yang saling terintegrasi meliputi:

Infrastruktur pembelajaran tersebut ditunjang oleh ketersediaan lebih dari 840 modul pelatihan yang dirancang khusus untuk memperkokoh kompetensi soft skill maupun hard skill para pelaku industri kreatif.

Baca Juga: Fundamental Tetap Kokoh, BRI Sambut Positif Dukungan Berbagai Pihak untuk Stabilitas Pasar Modal

Secara terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menyatakan, bahwa rekam jejak perkembangan Cinta Batik Semarang memberikan draf gambaran ri nyata mengenai bagaimana lini usaha yang berbasis pada potensi kearifan lokal mampu memiliki daya saing yang kuat di pasar global apabila dikelola secara konsisten dan inovatif.

“Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing yang kuat ketika dikelola secara konsisten dan inovatif," terang Dhanny.

Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya menjadi contoh bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

BRI akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran dan pengembangan usaha agar semakin banyak UMKM yang mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan. (*)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#cinta batik semarang #BRI #BBRI #LinkUMKM