RADARSOLO.COM – Harga bawang putih di Pasar Legi Solo mengalami kenaikan dalam dua pekan terakhir.
Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat menurun. Alhasil omzet pedagang ikut anjlok.
Darsih, pedagang Pasar Legi mengaku harga bawang putih saat ini mencapai Rp 34 ribu per kilogram (kg). Ada kenaikan dari harga sebelumnya antara Rp 28 ribu-Rp 30 ribu per kg.
Terkait stok, ia mengaku masih tersedia. Namun, kenaikan harga ini membuat pelanggan mengurangi jumlah pembelian.
Baca Juga: BRI Hadirkan Reksa Dana USD Batavia di BRImo, Buka Akses Investasi Global untuk Nasabah
“Biasanya beli 5 kg, sekarang jadi 3 kg. Banyak yang mengurangi pembelian karena harganya terus naik,” ujar Darsih, kemarin (15/6).
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya Walinah, 74. Ia mengaku harga bawang putih jenis sincau kualitas super kini tembus Rp 34 ribu per kg.
Sedangkan ukuran lebih kecil dijual Rp 31 ribu per kga. Sebelumnya, harganya hanya Rp 26 ribu per kg.
Baca Juga: Gandeng Perguruan Tinggi, Perum BULOG Gulirkan Program Campus Preneur untuk Ketahanan Pangan
“Bawan putih harganya sudah setengah bulan ini naik. Stok dari pusat mulai menipis. Ya harganya otomatis naik dan sekarang hampir sama dengan bawang kating,” beber Walinah.
Menurut Walinah, turunnya daya beli masyarakat tak hanya disebabkan kenaikan harga bawang putih.
Ia justru menyoroti perubahan pola belanja masyarakat, yang kini beralih ke pusat grosir atau via online.
“Sekarang banyak yang beli langsung ke tempat bosnya atau lewat online. Dulu belinya di pasar. Sekarang pasar malah sepi. Omzet turun 80 persen,” bebernya.
Di sisi lain, harga bawang merah justru mengalami penurunan seiring masa panen tiba. Jika sebelumnya Rp 55 ribu per kg, kini turun di kisaran Rp 40 ribu-Rp 45 ribu per kg.
Selain itu, harga bawang bombay justru turun dari Rp 42 ribu menjadi Rp 39 ribu per kg. Namun penurunan harga tersebut belum bisa mendongkrak penjualan karena pasar sedang lesu.
“Harga turun karena pasarnya sepi pembeli. Yang belinya tidak ada,” keluhnya.
Walinah berharap kondisi ekonomi segera membaik, sehingga daya beli masyarakat kembali pulih.
“Kalau ada yang beli, omzetnya bisa berputar. Ini barang saya nggak ada yang beli, padahal harganya sudah murah,” ujarnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto