RADARSOLO.COM – Pemadaman listrik yang beberapa kali terjadi dalam dua pekan terakhir membuat pedagang Pasar Ikan Hias Depok Manahan, Banjarsari, Solo waswas.
Sebab, keterlambatan menyalakan genset saat listrik padam alias byar pet, bisa berujung pada kematian ikan hias yang nilainya mencapai ratusan ribu rupiah per ekor.
Salah seorang pedagang ikan Karno mengaku, sudah merasakan kerugian akibat pemadaman listrik.
Menurutnya, ikan-ikan hias sangat bergantung pada aerator yang membutuhkan listrik untuk menjaga kadar oksigen di dalam kolam.
Baca Juga: Prediksi Harga Emas Antam Selasa 23 Juni 2026, Akankah Kian Melemah Besok?
"Kalau telat nyalakan genset ya ikannya bisa teler semua. Apalagi rumah saya jauh, perjalanan sekitar satu jam," ujarnya, Selasa (23/6).
Karno menuturkan, dalam beberapa hari terakhir listrik di kawasan pasar sempat padam hingga dua kali. Masing-masing pemadaman berlangsung sekira dua jam.
"Kemarin dua kali mati, yang pertama tidak ada pemberitahuan, yang kedua ada. Kita enggak dikasih tahu kenapa kok sering mati," terang Karno.
Saat pemadaman pertama terjadi, dia tidak berada di pasar melainkan masih di rumahnya di Karanganyar. Akibatnya, lima ekor ikan koi berukuran besar mati.
"Ada lima ekor yang mati. Harganya sekira Rp 500 ribu per ekor, habis Rp 2 juta. Belum yang kecil-kecil juga ada yang mati," katanya.
Menurut Karno, ikan hias berukuran kecil justru lebih rentan saat pasokan oksigen terhenti. Karena itu, pemadaman listrik selalu menjadi alarm darurat untuk segera beralih ke genset.
Dia berharap pemadaman listrik tidak lagi sering terjadi. Terlebih saat ini sudah memasuki musim kemarau.
"Dulu kalau musim hujan masih maklum, mungkin karena angin atau pohon tumbang. Tapi sekarang musim panas kok sering mati," keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Tri Susanti. Dia mengatakan pedagang harus selalu siaga setiap kali terjadi pemadaman dengan menyalakan genset sebagai sumber listrik cadangan.
"Kalau telat pasang genset, ikan yang kondisinya kurang sehat biasanya tidak kuat," ujarnya.
Baca Juga: Kisah Sukses Jufriyah, Usaha Peyek dan Tepung Ayam Goreng Berkembang Berkat Dukungan BRI
Tri mengaku pernah mengalami kerugian akibat keterlambatan menyalakan genset. Saat itu dirinya baru sampai di rumah yang berjarak cukup jauh dari pasar, kemudian mendapat kabar listrik padam.
"Baru sampai rumah sekira 10 menit, terus ditelepon kalau mati lampu. Sampai ke pasar lagi sudah lebih dari satu jam," tuturnya.
Menurutnya, kerugian akibat kematian ikan tidak bisa dianggap sepele. Apalagi jika yang mati merupakan ikan koi berukuran besar dengan harga ratusan ribu rupiah per ekor.
"Jangan sering-sering mati lampu. Soalnya pengaruh ke pengunjung juga," ujarnya. (alf/nik)
Editor : fery ardi susanto