RADARSOLO.COM – Krisis global memicu kenaikan harga sparepart kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil.
Bahkan sparepart bekas sekalipun. Imbasnya, omzet pedagang sparepart bekas di Pasar Notoharjo, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo terjun bebas.
Pedagang sparepart bekas dan baru di Pasar Notoharjo Irfan Rafianto mengaku, kondisi saat ini sedang terpuruk.
Bahkan dalam beberapa pekan terakhir, aktivitas jual-beli kian lesu.
“Sepi sekali. Paling parah ya beberapa minggu terakhir ini. Pernah sehari tidak laku sama sekali,” keluh Irfan, kemarin (25/6).
Menurutnya, kenaikan harga sparepart dipicu meningkatnya harga bahan baku dan sejumlah komponen pendukung.
Akibatnya, pedagang terpaksa menaikkan harga jual ke konsumen.
Baca Juga: Prediksi Harga Emas Antam Selasa 23 Juni 2026, Akankah Kian Melemah Besok?
“Kami terpaksa menaikkan jual juga supaya tidak rugi banyak. Kisarannya Rp 30 ribu per barang,” ujarnya.
Karena mayoritas harga naik, kondisi Pasar Notoharjo mulai sepi pembeli.
“Banyak pembeli yang mengeluh harga mahal. Harusnya beli di sini harganya lebih murah, tapi sekarang susah bersaing,” bebernya.
Dampak paling terasa terlihat pada omzet harian. Jika sebelumnya meraup keuntungan bersih Rp 1 juta, kini hanya di kisaran Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per hari.
Menyiasati kondisi tersebut, Irfan mengandalkan pemasaran via media sosial (medsos) Facebook. Cara itu lebih efektif dibandingkan jualan di marketplace. “Mau tidak mau harus main online,” ujarnya.
Baca Juga: Wisatawan Membludak? Pertamina Siapkan Langkah Khusus di Seluruh SPBU Jateng dan DIY
Keluhan serupa disampaikan Bontos Margono. Menurutnya, kondisi Pasar Notoharjo dalam dua bulan terakhir cukup memprihatinkan. Hampir semua jenis sparepart mengalami kenaikan harga.
“Harganya naik antara 10-30 persen, tergantung jenis barang. Paling laris kaca spion dan komponen bodi sepeda motor. Tapi yang itu tadi, pembelinya berkurang jauh sekali,” jelasnya.
Ditanya pengunjung yang datang, Margono mengaku kebanyakan makelar mobil bekas. “Harapannya kondisi ekonomi semakin membaik. Pasarnya ramai lagi dan pembelinya banyak seperti dulu,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto