Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Pedagang Sayur Tolak Pasok MBG Karena Harga Tidak Cocok, Disdag Dorong Bentuk Konsorsium

Alfida Nurcholisah • Rabu, 8 Juli 2026 | 18:41 WIB
Ilustrasi aktivitas pedagang sayuran di Pasar Legi Solo, belum lama ini. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Ilustrasi aktivitas pedagang sayuran di Pasar Legi Solo, belum lama ini. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo mendorong pedagang pasar membentuk konsorsium atau semacam paguyuban, untuk memenuhi kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG). 

Langkah tersebut dinilai penting, agar pedagang pasar tradisional ikut menikmati dampak dari program pemerintah itu.

Kepala Disdag Kota Solo Arif Handoko menjelaskan, konsorsium ini untuk menguatkan posisi pedagang sebagai pemasok bahan baku satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Selain itu, skema tersebut juga mengantisipasi sistem pembayaran tempo, yang selama ini memberatkan pedagang kecil.

Baca Juga: Harga Rendah, Pedagang Sayuran Di Solo Tolak Jadi Pemasok MBG

“Kami mengimbau pedagang agar membentuk konsorsium melalui paguyuban pasar. Nanti kalau SPPG belanja di situ dan bayarnya tempo, bisa dibicarakan bersama. Kalau pedagang berjalan sendiri, jelas berat,” kata Arif, Senin (6/7).

Konsorsium ini diharapkan mencegah pasokan kebutuhan MBG hanya dikuasai pedagang partai besar. Sehingga pedagang kecil di pasar tradisional punya kans sama sebagai pemasok.

“Jangan sampai pemasok hanya dikuasai pedagang besar saja. Harapannya, semua pedagang ikut menikmati manfaat MBG,” bebernya.

Selama ini, mayoritas dapur MBG membeli bahan pangan langsung dari petani. Di antaranya di Kecamatan Selo, Boyolali.

Baca Juga: 56 Ton Beras Tak Dibayar, Pedagang Beras Asal Mojogedang Menanti Keadilan di PN Karanganyar

“MBG tidak banyak yang belanja di pasar, tapi langsung petani. Kami sudah pernah kumpulkan pengelola SPPG. Harapannya, mereka belanja di pasar terdekat,” jelas Arif.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Disdag telah menyiapkan daftar harga harian bahan pokok dari 18 pasar tradisional di Kota Solo.

Data harga tersebut diperbarui setiap hari dan dapat dijadikan acuan SPPG saat berbelanja.

"Kalau mereka minta daftar harga, kami berikan. Harapan kami setelah mengetahui harga pasar, mereka berbelanja di pasar rakyat," ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan Jawa Pos Radar Solo, beberapa pedagang mengeluhkan SPPG membeli dengan harga di bawah pasaran.

Bahkan pada sejumlah pedagang, pembayaran dilakukan bertempo selama seminggu. Hal ini memberatkan pedagang untuk menjalin kerjasama dengan SPPG.

Baca Juga: Cara Cek Desil Pakai NIK Sebelum Bansos Tahap 3 2026 Resmi Cair, Posisi dan Status Ekonomi Berubah atau Tidak?

Menanggapi hal tersebut, Arif berharap SPPG membeli kebutuhan pangan dengan mengacu harga pasar dan tidak menekan harga pedagang.

Menurutnya, margin keuntungan pedagang pasar relatif tipis sehingga dibutuhkan kerja sama yang saling menguntungkan.

"Harapan kami SPPG membeli dengan harga pasar yang wajar. Pedagang juga mengambil keuntungan tidak banyak. Jadi sama-sama untung dan manfaat MBG benar-benar dirasakan pasar rakyat," pungkasnya. (alf)

Editor : fery ardi susanto
#konsorsium #pedagang sayur tolak mbg #program mbg #Paguyuban