Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Daya Beli Masyarakat Lesu, Harga Emas Kembali Merangkak Naik

Alfida Nurcholisah • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:40 WIB
Harga emas di pasaran kini merangkak naik lagi, namun daya beli belum pulih. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Harga emas di pasaran kini merangkak naik lagi, namun daya beli belum pulih. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Setelah sempat anjlok hingga sekira Rp100 ribu per gram dalam dua pekan terakhir, harga emas perhiasan di Solo mulai kembali menguat.

Kenaikan yang terjadi sekitar sepekan terakhir mencapai Rp50 ribu per gram.

Meski begitu, pemulihan harga belum mampu mengangkat daya beli masyarakat yang masih lesu.

Pedagang emas Pasar Legi Bayu Murti mengatakan, kenaikan harga emas saat ini lebih bersifat rebound setelah sebelumnya mengalami koreksi cukup dalam.

Baca Juga: Harga Emas Antam Selasa 7 Juli 2026 Berapa Prediksinya? Intip Peluang Reli ke Level Rp2,7 Juta Jelang Perdagangan Esok

"Kalau murninya naik Rp50 ribuan dibanding dua minggu lalu. Sebelumnya sempat turun hampir Rp 100 ribu per gram, sekarang naik lagi dan sudah mulai stabil," ujarnya, Rabu (8/7).

Menurut Bayu, harga emas di setiap toko berbeda karena masing-masing memiliki kebijakan sendiri.

Saat ini, emas kadar 37,5 persen dijual sekitar Rp1 juta per gram, kadar 42 persen Rp1,125 juta, kadar 50 persen Rp1,17 juta, kadar 70 persen Rp1,745 juta, dan kadar 75 persen sekitar Rp1,86 juta per gram.

Dia menilai, fluktuasi harga ini dipengaruhi kondisi global.

Baca Juga: Rangkuman Pergerakan Harga Emas Antam Selama Sepekan Ini, Grafik Menanjak di Awal Juli

Penurunan sebelumnya dipicu ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), sedangkan penguatan harga belakangan didorong pelemahan nilai tukar rupiah.

Meski harga kembali naik, transaksi belum menunjukkan peningkatan signifikan. Bayu menyebut jumlah pembeli dan penjual relatif seimbang.

"Yang paling banyak tetap cincin. Kalau dulu kalung cukup ramai, sekarang permintaannya turun," katanya.

Menurutnya, masyarakat kini lebih memilih perhiasan berukuran kecil dengan berat sekitar 1-2 gram.

Pembelian emas berukuran besar semakin jarang karena kemampuan belanja masyarakat menurun.

"Daya beli memang merosot, apalagi sekarang bertepatan dengan kebutuhan masuk sekolah," imbuhnya.

Pedagang emas lainnya Umi Kulsum mengatakan, kondisi pasar emas masih sepi. Bahkan, penurunan permintaan sudah terasa sejak setelah Lebaran tahun ini.

"Sekarang tidak ada permintaan yang ramai. Yang dicari paling cincin setengah gram sampai satu gram. Di atas itu sudah jarang," ujarnya.

Baca Juga: Update Harga Emas Antam Sabtu Sore Akhir Pekan Ini, Pergerakan Kian Menggairahkan

Ia mengatakan tingginya harga emas membuat masyarakat menunda pembelian, termasuk calon pengantin yang kini cenderung membeli seperlunya.

"Kadang yang menikah sekarang beli satu cincin saja untuk perempuan. Yang laki-laki tidak, karena harga emas mahal," katanya.

Umi menambahkan, meski harga emas sempat turun sekitar Rp100 ribu per gram dari posisi tertinggi, kondisi tersebut belum mampu mendongkrak transaksi.

Menurutnya, masyarakat lebih mengutamakan kebutuhan pokok dibanding membeli perhiasan.

"Daya belinya memang turun. Orang sekarang lebih memilih beli beras dulu daripada beli emas," ujarnya. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#emas perhiasan #emas antam #harga emas