RADARSOLO.COM - Belakangan ini, ada satu kalimat yang hampir selalu muncul setiap ada produk dengan harga yang dianggap terlalu mahal.
"Ya berarti kamu bukan target pasarnya."
Mulai dari makanan dan minuman viral, merchandise, parfum, skincare, sampai pakaian, komentar tersebut seolah menjadi "tameng" ketika ada orang yang mempertanyakan harga suatu produk. Alih-alih membahas apakah harganya masuk akal atau tidak, perdebatan justru bergeser menjadi soal siapa yang dianggap pantas membeli produk tersebut.
Padahal, mengkritik harga bukan berarti tidak mampu membeli. Lalu, kenapa kalimat "bukan kamu target pasarnya" sekarang makin sering digunakan?
Baca Juga: Dulu Dianggap Aneh, Ternyata Kata-Kata Ini Sudah Resmi Masuk KBBI
Sebenarnya, istilah target pasar memang ada dalam dunia pemasaran. Setiap produk memiliki kelompok konsumen yang berbeda-beda. Ada produk yang ditujukan untuk pelajar, ada yang menyasar keluarga, dan ada pula yang memang dibuat untuk konsumen kelas premium. Jadi, secara konsep, tidak semua produk memang ditujukan untuk semua orang.
Akan tetapi, di media sosial, makna kalimat tersebut perlahan bergeser. Kini, "bukan kamu target pasarnya" sering digunakan untuk menghentikan kritik soal harga. Seolah-olah, kalau seseorang merasa harga suatu produk terlalu mahal, masalahnya bukan ada pada harga, melainkan karena ia dianggap bukan calon pembeli yang dituju.
Fenomena ini ternyata bisa dijelaskan dari sisi psikologi dan perilaku konsumen, loh.
Baca Juga: Bagaimana jika Sejarah Indonesia Diceritakan Lewat Kisah Perempuan? 6 Buku ini Menjawabnya
Salah satunya adalah Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan tren. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa media sosial membuat banyak orang terdorong untuk ikut mencoba sesuatu yang sedang viral. Ketika teman-teman mengunggah makanan baru, minuman yang sedang hype atau produk yang ramai dibicarakan, muncul keinginan untuk ikut membeli agar tidak merasa tertinggal.
Akibatnya, harga bukan lagi pertimbangan utama. Yang dicari adalah pengalaman, konten, atau sekadar bisa mengatakan, "Aku juga sudah coba."
Baca Juga: Hafal Lirik Lagu, Lupa Isi Buku? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Selain FOMO, ada juga konsep conspicuous consumption atau konsumsi untuk menunjukkan status sosial. Teori yang diperkenalkan ekonom Thorstein Veblen ini menjelaskan bahwa sebagian orang membeli suatu produk bukan semata-mata karena fungsinya tetapi juga karena ingin menunjukkan citra tertentu. Dalam kondisi seperti ini, harga yang mahal justru dianggap menambah nilai eksklusif sebuah produk.
Fenomena serupa juga terlihat dalam berbagai penelitian di Indonesia. Salah satunya riset dari tim Universitas Paramadina yang menemukan bahwa sebagian konsumen kelas menengah memiliki dorongan kuat untuk memeroleh pengakuan sosial melalui barang yang mereka gunakan. Nilai simbolis suatu produk sering kali menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dibanding fungsi aslinya.
Ada lagi yang disebut price-quality heuristic, yaitu kecenderungan otak menganggap barang mahal pasti lebih berkualitas. Padahal, belum tentu demikian. Tidak sedikit produk yang menjadi viral karena kemasannya menarik, dipromosikan influencer, atau berhasil membangun citra premium, meski dari sisi bahan atau proses produksinya tidak jauh berbeda dengan produk lain yang lebih terjangkau.
Baca Juga: Legendaris Sejak 1977, Sego Tumpang Congor Mbok Semi Boyolali Tawarkan Sensasi Makan di Pawon
Di Indonesia sendiri, ada beberapa kebiasaan yang membuat fenomena ini semakin mudah terjadi. Masyarakat yang cenderung komunal membuat rekomendasi dari teman, keluarga, atau influencer memiliki pengaruh besar terhadap keputusan membeli. Ketika sebuah produk viral, banyak orang ikut membeli karena ingin merasakan pengalaman yang sama.
Di sisi lain, masih ada budaya "aji mumpung", yaitu ketika permintaan sedang tinggi, sebagian penjual menaikkan harga untuk memaksimalkan keuntungan. Hal seperti ini sering terlihat saat musim liburan, konser, atau ketika sebuah produk tiba-tiba viral di media sosial.
Sayangnya, tidak semua konsumen membandingkan harga atau mencari tahu apakah kenaikan tersebut memang sebanding dengan kualitas yang ditawarkan. Selama produknya sedang ramai dibicarakan, banyak yang tetap membeli tanpa berpikir panjang.
Akhirnya terbentuklah sebuah siklus. Produk viral membuat banyak orang membeli karena FOMO. Tingginya permintaan membuat harga ikut naik. Karena tetap laku, harga tersebut lama-kelamaan dianggap wajar. Ketika ada yang mempertanyakan, muncul komentar, "Bukan kamu target pasarnya."
Padahal, konsep target pasar dan kritik terhadap harga adalah dua hal yang berbeda. Sebuah produk boleh saja ditujukan untuk kalangan tertentu, tetapi konsumen tetap berhak mempertanyakan apakah harga yang ditawarkan memang sebanding dengan kualitas, biaya produksi, atau nilai yang mereka dapatkan.
Editor : Kabun Triyatno