Muhammad Nasir Mattusin Raih Penghargaan General Manager Terbaik: ‎44 Tahun Mengabdi di Dunia Perhotelan

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 19:17 WIB
PANUTAN: GM Aston Solo Hotel ‎Muhammad Nasir Mattusin meraih penghargaan Best General Manager Archipelago Hotels kategori Stronger Leadership. (‎ALFIDA NURCHOLISH/RADAR SOLO)
PANUTAN: GM Aston Solo Hotel ‎Muhammad Nasir Mattusin meraih penghargaan Best General Manager Archipelago Hotels kategori Stronger Leadership. (‎ALFIDA NURCHOLISH/RADAR SOLO)

RADAR‎SOLO.COM – Empat dekade lebih mengabdikan diri di industri perhotelan mengantarkan Muhammad Nasir Mattusin meraih penghargaan Best General Manager Archipelago Hotels kategori Stronger Leadership. Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas dedikasi pria asal Sumatera Selatan yang telah menghabiskan 44 tahun membangun karier di dunia hospitality.

‎Pria kelahiran Meranjat, Sumatera Selatan, 31 Mei 1957 itu mengaku tak pernah membayangkan akan berkarier di industri perhotelan. Semasa muda, ia justru bercita-cita menjadi penyiar TVRI maupun RRI. Bahkan, ia sempat mengikuti siaran percobaan di kedua lembaga penyiaran tersebut.

"Saya sudah siaran percobaan di TVRI dan RRI. Tapi akhirnya saya jatuh hati kepada dunia hotel," ujarnya saat ditemui di Aston Solo Hotel, Selasa (4/8).

‎Sekitar 23 tahun pertama kehidupannya dihabiskan di Palembang. Di kota itu, Nasir menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi sekaligus memulai karier. Setelah itu, perjalanan hidup membawanya bekerja di Bengkulu, Lampung, Yogyakarta, Bandung, hingga akhirnya dipercaya memimpin Aston Solo Hotel.

"Namanya takdir. Hidup itu berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain. Saya percaya Tuhan sudah mengatur semuanya," katanya.

Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan perhotelan, Nasir memilih belajar langsung dari pengalaman di lapangan. Kariernya dimulai sebagai front liner di sebuah hotel di Palembang. Rasa ingin tahu yang tinggi membuatnya tak hanya mengerjakan tugas utama, tetapi juga mempelajari hampir seluruh operasional hotel.

‎DEDIKASI: Muhammad Nasir Mattusin sudah mengabdikan puluhan tahun di dunia Perhotelan. 
‎DEDIKASI: Muhammad Nasir Mattusin sudah mengabdikan puluhan tahun di dunia Perhotelan. 

‎Ia pernah membantu resepsionis, mengantar koper tamu, menyiapkan ruang pertemuan, hingga mencuci piring. Bahkan, demi memperkaya pengalaman, ia rela bekerja hingga tiga shift dalam sehari.

‎"Saya bekerja itu untuk belajar. Bahkan saya sering bekerja tiga shift mulai pagi, sore, lanjut ke malam. Saya ingin memahami semua pekerjaan," tuturnya.

‎‎Menurut Nasir, pengalaman langsung di lapangan menjadi modal terbesar untuk memahami operasional hotel sekaligus membentuk karakter kepemimpinan. Baginya, bekerja di hotel bukan sekadar melayani tamu, melainkan memahami karakter setiap orang dan mampu mengantisipasi kebutuhan mereka sebelum disampaikan.

‎"Kadang hati kita sedang kalut, tapi kita tetap harus tersenyum. Itulah pengorbanan orang hotel," ungkapnya.

‎Salah satu ujian terberat dalam perjalanan kariernya terjadi saat krisis ekonomi 1998. Kala itu, ia harus menghadapi tuntutan kenaikan gaji dari karyawan di tengah kondisi ekonomi yang sulit. Nasir memilih mengedepankan dialog dan mencari solusi bersama tanpa mengabaikan keberlangsungan perusahaan.

‎"Kalau menghadapi ombak besar, jadilah karang. Saya berusaha menampung aspirasi karyawan, tapi dengan kondisi ekonomi saat itu, kita tidak bisa berbuat lebih. Akhirnya ada negosiasi tidak hanya dengan karyawan, tetapi juga dengan supplier," ujarnya.

‎Dalam memimpin Aston Solo Hotel, Nasir menerapkan gaya kepemimpinan yang memadukan ketegasan dan empati. Menurutnya, seorang pemimpin harus mampu menyeimbangkan hati nurani dengan kewenangan yang dimiliki.

"Kalau semuanya pakai hati, saya akan jadi pemimpin yang cengeng. Kalau semuanya pakai kekuasaan, jadinya tirani. Harus berimbang menggunakan keduanya," jelasnya.

Nasir yang pernah menempuh pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Palembang meyakini kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh ijazah. Integritas, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kompetensi, serta kemauan untuk terus belajar menjadi fondasi utama dalam membangun karier.

‎"Attitude, skill, dan knowledge harus disertai kualitas mental, kualitas fisik, dan kualitas teknik. Insyaallah output-nya adalah sukses," katanya.

Di awal kariernya, Nasir juga dihadapkan pada stigma negatif masyarakat terhadap dunia perhotelan. Untuk mengubah pandangan tersebut, ia menggagas berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan masyarakat sekitar.

‎"Saya mengambil strategi mengadakan tarawih keliling. Selain itu, hotel yang saya pimpin saat itu juga sering menjadi tempat salat Idulfitri maupun penyelenggaraan kurban. Cara itu sangat efektif membangun citra positif dunia perhotelan di tengah stigma masyarakat kala itu," kenangnya.

‎Perjalanan panjang selama lebih dari empat dekade membawa Nasir dari seorang anak kampung di Ogan Ilir yang pernah bermimpi menjadi penyiar menjadi salah satu figur berpengaruh di industri hospitality Indonesia. Selain dipercaya memimpin Aston Solo Hotel, ia juga tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki posisi general manager di jaringan Starwood Hotels yang membawahi merek Sheraton. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras, kemauan belajar, dan integritas mampu mengantarkan seseorang meraih puncak karier. (alf/nik)

 

Editor : Niko auglandy
Best General Manager penghargaan Aston Solo Hotel perhotelan