RADARSOLO.COM - Aktivitas bongkar muat bahan pangan pokok langsung menyambut kedatangan warga yang silih berganti datang di gerai Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari sejak pagi.
Saat Jawa Pos Radar Solo datang, kemarin pagi (20/7), di dalam ruangan puluhan pembeli tampak antre demi mengamankan komoditas pangan, mulai dari beras SPHP, MinyakKita, hingga gas LPG bersubsidi 3 kilogram. Stok kebutuhan pokok yang melimpah ini berhasil dihadirkan berkat jalinan kemitraan strategis antara pihak koperasi dengan Bulog serta distributor swasta.
"Saya sengaja langsung mendaftar jadi anggota koperasi resmi tadi pagi karena selisih harganya lumayan miring untuk modal dijual kembali di toko," ujar Sukarsih, warga Clolo RT 04/RW 06 Kadipiro, Banjarsari, yang sehari-hari memutar roda ekonomi lewat toko kelontong.
Pilihan Sukarsih untuk bergabung menjadi cerminan dari melesatnya performa koperasi yang sejatinya baru berdiri pada Juni 2025 dan aktif bergerak per September itu. Sukses membukukan sekira Rp 2 juta total transaksi harian pada agenda Rapat Anggota Tahunan (RAT) akhir tahun lalu, gebrakan mereka justru makin tak terbendung memasuki tahun baru.
Terhitung sejak periode Januari hingga Juli, gerai belanja andalan warga utara Solo ini sukses meraup total omzet kumulatif fantastis yang menembus lebih dari Rp 300 juta. Lonjakan omzet masif tersebut tergolong unik karena perputaran uang rata-rata Rp 2 juta per hari itu justru diraih dari jam operasional gerai yang sangat singkat, yakni hanya dua jam sehari, mulai pukul 09.00 hingga 11.00.
Ketua KKMP Banjarsari Budi Agung Setyowicoyo membeberkan, rahasia pertumbuhan omzet ini terletak pada skema klasterisasi harga yang membedakan tarif untuk kategori umum, anggota, hingga segmen toko kelontong.
“Melalui sistem ini, masyarakat yang berkomitmen menjadi anggota resmi otomatis diuntungkan karena mendapatkan harga yang jauh lebih miring atau murah dibandingkan dengan pembeli nonanggota,” tuturnya.
Dilain sisi, konsumen dari sektor UMKM lokal seperti pemilik usaha katering dan pedagang nasi goreng kini bahkan mendominasi basis pelanggan terbesar koperasi. Ketertarikan para pelaku usaha ini ikut didorong oleh kemudahan syarat keanggotaan yang hanya bermodal KTP, nomor telepon, dan e-mail, serta komitmen iuran berupa simpanan pokok Rp 100 ribu dan simpanan wajib Rp 10 ribu per bulan.
Seluruh basis data identitas para anggota baru tersebut nantinya langsung terintegrasi secara otomatis agar mereka bisa berselancar memanfaatkan layanan digital koperasi. Sebagai ujung tombak digitalisasi, manajemen koperasi merilis aplikasi mandiri bertajuk "My KOPKEL" untuk memudahkan pemantauan saldo simpanan, top up harian, hingga transaksi belanja daring.
Melalui ekosistem digital terpadu ini, KKMP Banjarsari melangkah lebih jauh dengan mengambil peran sebagai wadah offtaker penampung kreasi kerajinan dan kuliner buatan masyarakat lokal. “Beragam produk mulai dari kain batik, tenun, jilbab lukis, hingga makanan tradisional ampiang kini dibantu pemasarannya oleh koperasi agar mendapat kepastian pasar yang berkelanjutan,” tuturnya. (san/ves)