Direktur RSKD Duren Sawit Nikensari Koesrindartia mengatakan, Eny alias Ibu Eny telah menjalani perawatan selama 11 hari sejak dievakuasi petugas Suku Dinas (Sudin) Sosial Jakarta Timur dari rumah mewahnya yang terbengkalai di pada 30 Desember 2022 .
“Kondisi kesehatan pasien secara fisik dan psikis secara bertahap sedikit demi sedikit menuju ke arah yang lebih positif, baik,” kata Nikensari Koesrindartia di Jakarta, Senin (9/1).
Ibu Eny mendapatkan penanganan jiwa dan fisik pada dua hari pertama perawatan di RSKD Duren Sawit. Saat ini ibunda Tiko tersebut dirawat di ruang rawat inap jiwa.
Meski demikian, Eny masih harus dirawat inap untuk keperluan observasi dan evaluasi yang dilakukan dokter spesialis jiwa, psikiater dan psikoterapi oleh tim perawatan.
“Perawatan yang diberikan penanganan fase akut atau kegawatdarutanan fisik dan jiwa. Dilanjutkan pemeriksaan klinis, penunjang dan pemberian terapi medis psikofarmaka atau obat-obatan,” ujar Niken.
Niken menjelaskan, selama perawatan, perempuan yang mengalami depresi dan tinggal di rumah mewah yang terbengkalai selama puluhan tahun itu sudah mulai berkomunikasi pasif. Dia mulai menanyakan anak dan almarhum suaminya. Namun memang cenderung lebih banyak diam dan baru menjawab seperlunya jika ditanya.
Ibu Eny dapat dijenguk pihak keluarga sesuai jadwal besuk selama menjalani perawatan di RSKD Duren Sawit.
“Pasien boleh dijenguk sesuai jadwal dan peraturan, sekaligus mengevaluasi respons pasien ke ‘caregiver’-nya (pengasuh). Putra atau keluarga,” tutur Niken.
Sebelumnya, viral di media sosial mengenai kehidupan Ibu Eny dan anaknya yang bernama Tiko. Eny tinggal di rumah mewah tanpa listrik dan air selama belasan tahun. Eny yang mengalami depresi selama ini hanya dirawat seorang diri oleh Tiko. (antara/ria) Editor : Syahaamah Fikria