Sapardi Djoko Damono banyak menghabiskan masa mudanya di Kota Solo. Dia menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Inpres Nagaraherang. Kemudian, melanjutkan pendidikan di SMPN 2, lulus 1955. Lalu, ke SMAN 2 Surakarta.
Di usia yang masih sangat muda, Sapardi Djoko Damono sudah aktif menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kegemarannya menulis ini berkembang saat dia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Gadjah Mada Jogja. Setelah sempat menempuh studi di University of Hawaii, Honolulu, Sapardi menempuh program doktor di Fakultas Sastra UI. Sapardi Lulus pada 1989.
Selain sebagai sastrawan, pendiri Yayasan Lontar ini juga menjadi dosen, redaktur majalah, dan tetap menulis fiksi maupun nonfiksi. Berbagai penghargaan bidang sastra dia terima dari dalam dan luar negeri. Di antaranya adalah Cultural Award (Australia, 1978), Anugerah Puisi Putra (Malaysia, 1983), SEA Write Award (Thailand, 1986), Anugerah Seni Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990), Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996), Achmad Bakrie Award (Indonesia, 2003), Akademi Jakarta (Indonesia, 2012), Habibie Award (Indonesia, 2016), dan ASEAN Book Award (2018).
Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Beberapa puisinya sangat popular dan dikenal hingga saat ini. Seperti Aku Ingin, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari, dan lainnya. Popularitas puisi-puisinya semakin meningkat setelah dilakukan musikalisasi puisi.
Seperti musikalisasi Aku Ingin oleh Ags Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh Umar Muslim. Bahkan, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti (1991), yang dibawakan Ratna Octaviani. (bbs/ria)
Editor : Syahaamah Fikria