Sejatinya gamelan sudah mendunia. Sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda oleh UNESCO. Tapi apakah generasi muda sekarang mengenal gamelan? Jawabnya belum tentu. Faktanya, tak sedikit yang tidak nggagas gamelan. Bahkan nama-nama instrumennya saja banyak yang tidak tahu. Semisal ada yang tahu, itu pun sebatas gong.
“Kami sangat mencintai gamelan. Maka dari itu kami ingin gamelan dikenal banyak orang. Tapi tantangannya, anak muda zaman sekarang tidak banyak yang mengerti. Tidak banyak yang suka gamelan,” kata Grego -sapaan akrab Gregoriyanto Kris Mahendra-, saat dijumpai di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).
Lalu, bagaimana upaya untuk mengenalkan gamelan? Artaxiad Gamelan punya trik jitu. Salah satu caranya dengan melahirkan musikalitas gamelan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Mengawinkannya dengan musik etno yang kekinian.
“Gamelan memiliki aliran tradisional dan di luar tradisional. Ditambah dengan pengembangan dan inovasi. Biasanya orang menyebutnya gamelan kontemporer. Nah, kami di wilayah itu,” jelasnya.
Khusus di Artaxiad Gamelan, mereka mencoba mengawinkannya dengan musik barat. Rasionalnya, menggabungkan musik gamelan dengan band.
“Digabung dengan drum, bass, keyboard, gitar, saksofon, terompet, trombon, sampai dengan orkestra,” imbuh Grego.
Tidak semua instrumen gamelan dipakai Artaxiad. Grego dkk hanya memanfaatkan gamelan pelog. Karena keterbatasan anggaran yang dimiliki. Selain itu, pelog diklaim kaya akan nada. Jumlahnya mencapai tujuh, yakni ji-ro-lu-pat-mo-nem-pi. “Kalau gamelan slendro hanya lima nada, yakni ji-ro-lu-mo-nem-ji,” urainya.
Mengolah menjadi karya gamelan kontemporer, Artaxiad sering menemui tantangan. Karena tidak boleh asal menyajikan gamelan dalam balutan modern. Karena ada keharusan dan batasan yang tidak boleh dilanggar.
“Nah, grup seperti kami adalah yang menerobos batasan itu. Kalau tantangannya, menurut saya pribadi karena kurang referensi. Sebab grup yang melakukan seperti ini tidak banyak,” bebernya.
Selain itu, terdapat kegalauan yang dirasakan Artaxiad. Karena seni seperti ini harus dihidupi oleh seniman. Dan seniman seperti mereka juga hidup dari seni.
“Jadi bagai dua sisi pedang. Itu berat bagi kami. Selain menghidupi, kami juga hidup dari situ. Mendapat uang dari gamelan,” tuturnya.
Kendati demikian, Artaxiad tetap eksi menghasilkan karya. Hingga kini mereka sudah menciptakan puluhan album. Tiap album memiliki delapan hingga sepuluh lagu. Sayangnya, banyak karya yang tidak didokumentasikan.
“Kekurangan kami, karena tidak pandai mendokumentasikan. Kalau dihitung, album kami bisa sampai puluhan kalau direkam semua. Karena biasanya untuk mengiringi tari, drama musikal, dan lainnya. Jadi untuk pertunjukan tidak tidak direkam lagi,” tandasnya.
Kini, Artaxiad sudah sadar pentingnya mendokumentasikan karya. Perlahan tiap karya yang dihasilkan, diusahakan selalu direkam. “Kami sering memunculkan karya di sosial media,” ujarnya. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram