Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Filosofi Tari Kinnara Kinnari, Menjaga Pohon Kehidupan

Damianus Bram • Minggu, 2 Juli 2023 | 16:10 WIB
MENAWAN: Penari dari Sanggar Kinnara Kinnari menampilkan tarian Kinnara Kinnari di Taman Budaya Jawa Tengah, 7 Juni lalu. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
MENAWAN: Penari dari Sanggar Kinnara Kinnari menampilkan tarian Kinnara Kinnari di Taman Budaya Jawa Tengah, 7 Juni lalu. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.COM - Sanggar Kinnara Kinnari Borobudur menginjakkan kakinya di Pendopo Ageng Gendon Humardhani, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 7 Juni lalu. Tujuh penari sanggar tersebut, menyajikan tarian Kinnara Kinnari. Menggambarkan penjaga pohon kehidupan dan pundi-pundi rezeki.

Malam itu, dua makhluk setengah manusia dan setengah burung datang. Laki-lakinya adalah Kinnara, sementara yang perempuan Kinnari. Kedatangan mereka disusul lima bidadari. Mereka mengenakan kostum berwarna silver, putih, serta gold yang membuat pertunjukan semakin impresif.

“Pembukanya, Kinnara Kinnari diceritakan sedang bersama. Mereka selalu bersama untuk menjaga pohon kehidupan. Namanya pohon Kalpataru. Ketika menjaga pohon tersebut mereka bersama dengan bidadari-bidadari,” kata pengurus Sanggar Kinnara Kinnari Borobudur Yosi Wulandari usai pentas.

Inilah alasan mengapa Kinnara Kinnari digambarkan terlebih dahulu. Baru setelah itu bidadari-bidadari muncul menemani mereka. Dalam tampilan ini, banyak gerakan terbang. Sebagai ciri khas dari Kinnara Kinnari.

“Ciri khas tarian ini berada di gerakan tangan dan kaki. Kalau di Kinnara Kinnari, mereka seperti terbang. Karena mereka setengah manusia setengah burung. Tangannya juga lebih banyak gerakan terbangnya,” imbuhnya.

Sementara itu, tarian Kinnara Kinnari diciptakan pemilik Sanggar Kinnara Kinnari Borobudur Eko Sunyoto. Dia membuat karya indah ini, saat pindahan rumah ke Borobudur, Kabupaten Magelang.

“Terus di area rumah itu ada yang namanya Candi Pawon. Dari Candi Pawon itu, bapak (Eko) menemukan relief. Namanya adalah Kinaras,” lanjut Yosi, yang juga putri Eko Sunyoto.

Setelah itu, dijamakkan seperti Kinnara Kinnari. Pembuatan karya ini memakan waktu yang cukup lama. Dimulai pada 2007 dan berakhir pada 2009. Maklum, waktu itu Eko harus mengeksplorasi sekaligus meditasi.

“Karena bapak harus eksplor dulu. Gerakannya bagaimana? Musiknya bagaimana? Barulah Kinnara Kinnari kami launching pada 2009,” beber Yosi.

Seiring berjalannya waktu, tarian ini sudah banyak perubahan. Yosi mengaku ketika pertama kali launching, tari Kinnara Kinnari ada sosok bidadari dan buto alias raksasa. Kini, kedua sosok tersebut sudah dihilangkan. “Kenapa dulu ada buto-buto-nya? Hanya bapak (Eko) yang tahu,” papar Yosi.

Ditanya pesan ke masyarakat terkait tarian ini, sebagai gambaran sebuah kehidupan yang harus dijaga. “Siapa penjaganya? Ya diri kita masing-masing. Jadi bukan orang lain, orang tua, ataupun orang di sekitar kita. Tapi ya kita sendiri yang bisa menjaga kehidupan kita,” ujarnya. (nis/fer/dam) Editor : Damianus Bram
#Sanggar Kinnara Kinnari Borobudur #Tari Kinnara Kinnari #TBJT #Taman Budaya Jawa Tengah