RADARSOLO.COM – Kombinasi musik Jawa dan musik modern, mengiringi pementasan Cekuk Truno di Teater Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Minggu (16/7/2023) malam. Drama musikal yang menggabungkan pertunjukan pakelir, wayang kulit, hingga tari rakyat ini sukses membius para penonton.
Pementasan dibuka dengan alunan musik modern dan gendhing Jawa yang merdu. Cahaya lampu sorot mulai mengarah pada sosok dalang disabilitas yang piawai memainkan anak wayangnya.
Tak berhenti di situ, penonton kembali dibuat terkesima pada sosok berkebutuhan khusus yang menari dengan gemulainya. Dia adalah Murah Pranoto, mahasiswa tari ISI Surakarta yang membawakan lakon Cekuk Truno, bersama Victor Zefdiyan, mahasiswa pedalangan yang memerankan tokoh Celeng dalam lakon pertunjukan teater tersebut.
Cekuk Truno merupakan nama lain dari tokoh wayang kulit purwa Demang Sarapada. Murah Pranoto berhasil membawakan sosok tokoh Cekuk Truno yang memiliki semangat dan jiwa patriotik tinggi. Meskipun mengalami keterbatasan secara fisik.
Dikisahkan pada drama musikal tersebut, warga desa dibuat resah dengan ulah Celeng yang membuat onar. Warga desa pun akhirnya kewalahan dan meminta bantuan ke Cekuk Truno.
Hal tersebut membuat Cekuk Truno harus mendapatkan perlawanan sengit dari Celeng yang memiliki niat untuk menguasai desa. Gerakan-gerakan tari yang lucu dan mengocok perut juga sempat ditampilkan oleh para tokoh. Bentuk tubuh mereka yang tidak sempurna (cebol) membuat penampilannya semakin unik.
Selain Murah Pranoto dan Victor Zefdiyan, beberapa mahasiswa berkebutuhan khusus lainnya juga ikut pentas dalam pagelaran pertunjukan teater ini. Mereka adalah mahasiswa etnomusikologi Rah Aji, hingga dua mahasiswa karawitan ISI Surakarta Markus Andrea dan Saiful Solimi.
Sutradara drama musikal Cekuk Truno Tatik Harpawati mengatakan, mahasiswa berkebutuhan tidak bisa dibedakan dengan yang lainnya. Diakui Tatik mereka memiliki kemampuan yang luar biasa, asalkan bisa menggali potensinya.
"Harapan kami teman-teman disabilitas dari ISI Surakarta bisa lebih hebat lagi kedepannya. Mereka bisa percaya diri dan termotivasi untuk lebih sukses. Tentunya diharapkan bisa menginspirasi teman-teman yang lainnya" ucapnya Tatik, yang juga berstatus sebagai Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta.
Drama musikal Cekuk Truno yang baru kali pertama disajikan ini mengangkat tema gotong royong. “Pementasan ini juga sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa difabel punya semangat, tanggung jawab, dan kesempatan yang sama dengan lainnya untuk unjuk gigi,” ucap Project Manager Cekuk Truno Bondet Wrahatnala.
Bondet yang juga wakil dekan III Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta menjelaskan, dilibatkannya mahasiswa berkebutuhan khusus untuk memberikan mereka ruang yang sama dalam berkarya. Diakuinya bukan hal mudah bagi para mahasiswa disabilitas bisa tampil di depan publik.
“Awalnya memang kurang percaya diri, tapi setelah dilakukan pendekatan oleh dosen dan teman-teman di pusat studi disabilitas ISI Surakarta, akhirnya potensinya muncul,” ucapnya.
Hasil kolaborasi Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) FSP dengan mahasiswa berkebutuhan khusus ini menjadi satu bukti. Di mana seni tidak terbatas untuk siapapun, termasuk bagi para penyandang disabilitas sekaligus. Mereka tetap bisa berkarya jika diberikan kesempatan.
“ISI Surakarta memberikan kesempatan bagi semua mahasiswa untuk mengeksplor potensinya dalam bidang seni. Ada paket khusus yang disiapkan para dosen ISI untuk mengeksplor kemampuan mahasiswanya,” imbuhnya.
Pertunjukan teater Cekuk Truno dalam rangka dies natalis ke-59 ISI Surakarta. Acara ditutup dengan penampilan mempesona oleh tarian Murah Pranoto yang diiringi oleh musik modern dan suara merdu Victor.
Usai acara digelar, teriakan kagum membahana. Para penonton memberi apresiasi dengan tepuk tangan tanpa henti.
Memang tak berlebihan reaksi para penonton tersebut, mengingat pertunjukan teater Cekuk Truno tampil cukup mempesona. Para penonton pulang dengan perasaan puas.
”Luar biasa penampilan para pemainnya. Terlebih tadi juga ada yang pemerannya itu disabilitas. Ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan seseorang untuk berkarya. Setelah nonton ini kami makin percaya diri,” ucap Agung Wijaya, salah seorang penonton teater Cekuk Truno usai pementasan. (ian/nik)
Editor : Damianus Bram