Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Korea-Indonesia Students Traditional Musik Performance: Musik Tradisional Naik Kelas

Mannisa Elfira • Minggu, 30 Juli 2023 | 14:00 WIB
EPIC: Performa memukau, pertunjukan seni Seoul National University dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, lewat sajian musik dan tarian tradisional di Teater Besar Gendhon Humandari Rabu (26/7).
EPIC: Performa memukau, pertunjukan seni Seoul National University dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, lewat sajian musik dan tarian tradisional di Teater Besar Gendhon Humandari Rabu (26/7).

RADARSOLO.COM - Hubungan bilateral antara Indonesia dan Korea Selatan (Korsel), telah berjalan harmonis selama setengah abad. Memperingati harmonisasi hubungan itu, Seoul National University dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berkolaborasi dalam satu panggung. Tepatnya dalam agenda Korea-Indonesia Student Traditional Music Performance, di Teater Besar Gendhon Humandari, Rabu malam (26/7).

Epic dan fantastis. Kata-kata yang cocok menggambarkan Korea-Indonesia Student Traditional Music Performance di Teater Besar Gendhon Humandari, Rabu malam kemarin. Suara tepukan tangan membahana. Mata dan telingga penonton terbius sembilan persembahan karya seni istimewa.

Saking gemuruhnya, para penampil sontak menyajikan performa tambahan. Berwujud lantunan merdu lagu Bengawan Solo

“Seharusnya Bengawan Solo tidak ditampilkan. Tapi karena penonton masih tepuk tangan, karena itu kami sengaja tampilkan,” kata music director pertunjukan Aris Setiawan.

Performa kedua penampil, baik dari Korea maupun ISI, Surakarta bisa dibilang istimewa. Mengingat mereka baru bertemu secara langsung, tiga hingga empat hari. Sebelumnya, persiapan mereka dilakukan via daring. Mengingat jarak nan jauh yang memisahkan.

“Jadi ketika kami bertemu, tinggal penggabungan (konsep) saja. Mereka mengerti bahan kami. Kami pun mengerti bahan mereka. Memang dalam 1,5 bulan kami intens berhubungan via internet. Jadi ketika mereka datang ke sini (Solo), seolah-olah sudah menyatu,” imbuh Aris. 

Aris mengaku, dari ISI melibatkan 90 persen mahasiswa. Plus tiga dosen. “Panggung dan semua yang menata mahasiswa. Karena yajuknya kan Korea-Indonesia students. Memang di awal sempat ada ketakutan. Tapi saya yakin dengan para mahasiswa. Karena itu saya berani ambil risiko,” beber pria yang juga Kepala Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta tersebut.

Pertujukan malam itu basic-nya musik tradisional masing-masing negara. Awalnya, Aris dihubungi Korean Culture Center Indonesia, yang menawarkan kolaborasi dalam bentuk pertunjukan musik tradisional. “Lalu saya tawarkan musik nusantara, supaya lebih luas cakupannya,” beber Aris.

Pertunjukan diawali karya musik tradisional Korsel, yakni sangryeongsan dan cheongseonggok. Daegeum, alat musik tiup dari bambu disajikan dengan apik oleh Park Su-bin. Selanjutnya, giliran Indonesia lewat sajian karya Anging Mammiri. Berupa lagu tradisional Makassar, Sulawesi Selatan.

Tak mau kalah, giliran karya Seo Gong Chul-initiatef Gayageum Sanjo. Menyajikan alat musik gayageum yang dimainkan trio Kim Bo-kyung, Jang-gu, dan Kim Ju-ho. Disusul performa lenggeran siji lima, tarian pergaulan khas masyarakat Banyumas yang diiringi sinden dan gerong. 

Berikutnya sajian Salpurim, berupa Korean shamanic dance. Dibawakan penari asal Negeri Ginseng Kim Min Ji, yang diiringan musik tradisional gayaeum, ajaeng, daegeum, dan jang-gu. Setelah itu, penonton disuguhi penampilan alur alir. Padu padan musik keroncong khas Jawa, Sunda, Makassar, Banyuwangi, Bali, Betawi, hingga Melayu.

Puncaknya, penonton terkesiap dengan alunan musik Dokkaebi for Gayageum Trio. Disusul kolaborasi antara dua negara lewat sajian Flowing dan Imagine Indo, dengan komposer Won II. Merupakan kolaborasi alat musik gayageum, haegeum, shenghwang, ajaeng, dan perkusi.

“Saya pikir haegeum membuka ruang dan waktu bagi pendengar, hingga merasakan perasaan merinding. Itu sebabnya, sejak era 90-an sampai sekarang, tidak sulit menemukan nyanyian haegeum,” papar Aris. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Seoul National University #Music Performance #isi surakarta #Pentas Musik #panggung musik