Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jagad Gender Gumelar Karya Wahyu Thoyyib Pambayun, Eksplorasi Instrumen Gender

Mannisa Elfira • Minggu, 6 Agustus 2023 | 17:54 WIB
ARTISTIK: Perform Jagad Gender Gumelar, karya komponis Wahyu Thoyyib Pambayun, dalam agenda On Stage ke-16 di Teater Arena TBJT, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 12 Juli lalu.`
ARTISTIK: Perform Jagad Gender Gumelar, karya komponis Wahyu Thoyyib Pambayun, dalam agenda On Stage ke-16 di Teater Arena TBJT, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 12 Juli lalu.`

RADARSOLO.COM - Program On Stage oleh Studio Plesungan, kembali menghiasi Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 12 Juli lalu. Menghadirkan lima komposisi, hasil eksplorasi instrumen gender. Karya berjudul Jagad Gender Gumelar ini disajikan oleh komponis Wahyu Thoyyib Pambayun. 

Penerangan Teater Arena TBJT mulai diredupkan, malam itu. Sorot cahaya kuning hanya mengarah pada tengah-tengah panggung. Menuju pada sejumlah instrumen gamelan Jawa, yang dipegang 10 pengrawit. Mereka dari komunitas Gamelan Kalatidha, bersiap membius penonton dengan indahnya alunan-alunan musik eksperimental.

Jagad Gender Gumelar menampilkan sebuah karya, perjalanan artistik Wahyu Thoyyib Pambayun dalam mengeksplorasi instrumen gender. Menampilkan lima komposisi yang sudah disusun sejak beberapa tahun lalu. 

Lima komposisi tersebut adalah Aruhara (2018). Merupakan hasil eksplorasi dan elaborasi teknik, pola, dan melodi dalam Genderan Ada-Ada Ngobong Dupa, gaya Ny Sumiyati alias Bu Pringgo alias Mbah Drigul. 

Kemudian komposisi Brawala (2019). Merupakan kosakata Sanskerta, yang artinya saling bersahut-sahutan. Lalu komposisi Srawung Pengung (2020). Dimaknai sebagai sebuah upaya untuk saling mengenal dan terbuka, dengan mencoba mengesampingkan kepandaian masing-masing. Juga merupakan onomatope dari bunyi gaung bilah-bilah gender.

Selanjutnya kompisisi Umbaran (2022). Di komposisi ini, komponis mengeksplorasi teknik umbaran. Yakni memukul bilah-bilah gender, tapa menahan getaran bunyinya. Terakhir komposisi Gumrining (2021). Merupakan komposisi untuk instrumen gender barung dan gender penerus.

“Susunan karya ini sudah lama, sejak 2017-2022. Tapi proses latihannya (untuk On Stage) sekira sebulan. Kadang satu komposisi bisa lima sampai enam kali latihan. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing,” kata Wahyu.

Pria yang juga pengrawit dan dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini menambahkan, Jagad Gender Gumelar mengusung konsep perluasan bahasa musikal instrumen gender. Menggunakan vokabuler permainan instrumen gender, sebagai ide dasar komposisi. Nah, setiap komposisi disusun menggunakan metode kompositorik yang beragam. 

“Saya berupaya mengubah struktur ritme yang sudah baku, menjadi lebih leluasa. Juga mengolah garis-garis melodi yang transparan, menjadi lebih bergejolak. Selain itu, pola permainan, layar, dan dinamika diolah biar variatif. Juga pengembangan teknik-teknik permainan yang tidak terikat batasan budaya,” urainya.

Proses pengerjaan karya ini tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi konteks dalam karya ini adalah mengubah. Sebelum ke titik itu, Wahyu mengaku harus menguasai tentang batasan yang sudah ada. Kemudian dieksplorasi menjadi hal yang berbeda dan baru.

“Paling tidak tahu dasar-dasarnya. Beruntungnya profesi saya pengrawit gender. Belajar saya benar-benar lama. Bertahun-tahun sebelum mengeksplorasi,” imbuhnya.

Lalu, bagaimana cara mengeksplorasinya? Wahyu memberikan contoh. Biasanya, satu sajian komposisi hanya menggunakan satu jenis laras. Supaya hasilnya sama. Di sini, dia mengubah pakem itu. Memainkan dua gender secara bersamaan. 

“Frekuensi antara slendro dan pelog kan beda. Jadi menimbulkan efek interferensi. Ketika ada dua frekuensi berbeda ditabrakkan, nadanya tidak beraturan. Tapi justru jadi sesuatu yang berbeda. Itu potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahasa musikal di masa depan,” paparnya.

Ditanya alasan Wahyu mendalami instrumen gender, dia mengaku erat berhubungan dengan masanya. Karena darah seniman sudah mengalir tubuhnya. Ayahnya dalang, sedangkan ibunya sinden. 

“Pas bapak ndalang, saya pasti ikut. Biasanya dalam wayang, instrumen yang selalu berbunyi dan digunakan untuk tanda nada si dalang ya gender. Saya tidur di sela-sela gender dan dalang. Kadang dipangku pengrawit gender,” bebernya. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Studio Plesungan #Jagad Gender Gumelar #TBJT #On Stage #Taman Budaya Jawa Tengah