RADARSOLO.COM - Presentasi Karya 4 Reportoar, baru saja menghiasi Pendopo Wisma Seni, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Minggu malam (15/10). Program tersebut dicanangkan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMVP) Seni dan Budaya Jogjakarta.
Program tersebut berjalan, tak lepas dari campur tangan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), BBPPMVP, TBJT, hingga Omah Kreatif Arturah. Menurut pendiri Omah Kreatif Arturah Turah Hananto, selain fasilitator dalam program ini, juga pelaksana magang industri dan uji kompetensi para peserta.
Program tersebut berisi pelatihan profesi, khususnya bagi pelaku seni teater. Diikuti 12 peserta perwakilan sanggar teater. Mereka datang dari beberapa provinsi di Indonesia. Di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, Lampung, DKI, Jawa Barat, dan DI Jogjakarta.
“Rangkaian program dimulai 3 Oktober hingga 17 Oktober. Dilaksanakan di dua kota, yakni Kota Solo dan Jogjakarta,” ungkap Turah.
Dari pelatihan tersebut, terdapat empat karya yang dihasilkan. Mulai dari monolog Istri Pahlawan, monolog Sang Bintang, teater improvisasi berjudul Lanjut, serta teater eksperimen berjudul Ketakuran Ritus Tak Tahu.
Sekira satu jam penonton terbius pertunjukan yang tersaji malam itu. Tak sedikit bertanya-tanya. Dari mana dan bagaimana peserta bisa berpartisipasi dalam program tersebut?
“Pelaksanaan program tidak ada kendala berarti. Saya sangat berharap progam ini berlanjut setiap tahun. Karena sangat bermanfaat, sebagai bekal ilmu para peserta untuk diterapkan di sanggar masing-masing,” imbuh Turah.
Lewat pelatihan ini, lanjut Turah, diharapkan akan terlahir pelatih seni pertunjukan. Sekaligus memberikan pelatihan teater yang efektif, sebagai bekal ilmu untuk berkarya. Selain itu, diharap bisa menciptakan karya baru yang lebih produktif.
“Bisa mempercepat proses lahirnya generasi baru di bidang seni teater. Harapannya teater terus tumbuh dan berkembang. Kemudian akan lahir generasi baru, sebagai tongkat estafet pejalanan teater,” papar Turah.
Sementara itu Arifin Ipien, peserta dari Sanggar Warna Indonesia, Jawa Timur bergabung dalam kelompok kecil. Bersama Indra Wahyudi (Teater Anak Nusantara, DKI Jakarta) dan Muhammad Irfan Hanafi (Sanggar Rumah Teater Sawo Kecik, Jawa Barat).
Mereka menampilkan karya berjudul Lanjut. Ketiga peserta ini datang dari latar belakang berbeda. Contohnya Indra, yang memiliki basic teater anak dengan garapan opera dan lenong. Kemudian Irfan lewat dramanya. Sedangkan Iphien lebih pada ekplorasi tubuh dan ekspresi, karena basic-nya pantomime.
“Kami diberi tugas presentasi untuk teater improvisasi. Bersumber dari cerita masing-masing, lalu digabungkan menjadi sebuah alur cerita di pementasan,” papar Ipien.
Dari tiga latar belakang yang berbeda tersebut, Ipien dkk mencoba bermain improvisasi saat presentasi. “Kami latihan 10 hari di Jogjam, mulai dari penentuan alur dan bentuk. Kalau pemantapan empat hari di Solo,” bebernya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram