Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Terakhir Pentas Sambil Duduk di Karanganyar, Cak Diqin Tengah Dirikan Rumah Alquran dan Pondok Pesantren

Ragil Listiyo • Sabtu, 11 November 2023 | 04:14 WIB
Keluarga dan sahabat mengantarkan Cak Diqin di peristirahatan terakhir di permakaman umum Dusun Glagahan, Desa Jipangan, Kecamatan Banyudono, Boyolali
Keluarga dan sahabat mengantarkan Cak Diqin di peristirahatan terakhir di permakaman umum Dusun Glagahan, Desa Jipangan, Kecamatan Banyudono, Boyolali

RADARSOLO.COM - Sosok Cak Diqin, tak hanya kondang sebagai penyanyi dan penulis lagu. Cak Diqin memiliki misi agamis. Sebelum meninggal dunia, Cak Diqin bahkan mendirikan rumah Alquran dan pondok pesantren.

Duka mendalam terlihat dari raut Sri Lestari alias Nyimut, istri Cak Diqin. Nyimut mengamini, sang suami sudah sakit menahun.

"Sakitnya sudah lama, ya harus cuci darah setiap minggu dua kali, Senin dan Kamis. Dari tahun 2017. Jadi bertahannya beliau (Cak Diqin) sudah cukup lama, pengin sehat, pengin pulih lagi," ungkapnya saat ditemui usai pemakaman Cak Diqin di Boyolali, Jumat (10/11).

Sejak dua minggu terakhir, kesehatan seniman bernama asli Muhammad Shodiqin itu drop dan memburuk. Dia lantas dirujuk ke Rumah Sakit Pandan Arang (RSPA) Boyolali.

Sejak dirawat di RSPA pada Selasa (7/11) malam, Cak Diqin menunjukkan kondisi lemah dan enggan makan.

"Benar-bener menolak makanan, semua ditolak. Jadi semakin ke sini semakin lemes, semakin lemes. Kesadarannya sudah terganggu. Asupan gizinya nggak ada, sementara kalau dipaksa makan selalu mbalik (muntah)," tutur Nyimut.

"Akhirnya saya bawa ke rumah sakit. Saya kira masuk rumah sakit semakin membaik dengan tambahan nutrisi, (tapi) semakin nggak karu-karuan. Denyut nadinya lemah, denyut jantungnya lemah, saturasi oksigen lemas, semua drop," imbuh dia.

Cak Diqin dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (10/11) pukul 07.00 WIB di ruang ICU RSPA. Setelah dipulasara, jenazah lantas disemayamkan di rumah duka.

Nyimut menerangkan, pentas terakhir suaminya bersama Endah Laras di acara Endahing Budoyo Larasing Campursari di Karanganyar beberapa waktu lalu.

"Kemarin itu sudah drop Cak Diqin. Nyanyinya saja temponya sudah nggak karuan, kemudian nyanyinya duduk, sudah nggak mampu berdiri. Pengin'e yo ngetokke (inginnya memperlihatkan) aku sih bertahan, tapi secara fisik sudah nggak mampu. Memang sakitnya sudah lama. Mulai dropnya dua mingguan ini," papar dia.

Ada dua ratusan karya yang sudah dibuat oleh Cak Diqin. Tak dipungkiri, suaminya memiliki jiwa pencipta dan menulis lagu dengan cepat.

Selain itu, sejak satu tahun terakhir, Cak Diqin tidak menciptakan lagu untuk umum. Hal itu karena dia sedang menulis lagu pesanan dari para calon legislatif (caleg) yang minta dibikinkan lagu.

Cak Diqin bersama timnya saat ini juga dalam proses membangun Pondok Pesantren Tanah Jawi.

Ponpes itu dibangun di wilayah Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit, Boyolali. Lokasinya berdampingan persis dengan Resto Pawon Glagahan miliknya, hanya terpisahkan sungai.

Makam Cak Diqin yang berada di permakaman umum Dusun Glagahan, Desa Jipangan, Kecamatan Banyudono, Boyolali itu juga dekat dengan lokasi calon ponpesnya.

Di lahan seluas enam ribu meter persegi itu, kini sudah terbangun satu rumah pendapa berbentuk limasan dan fondasi calon masjid.

Nyimut mengamini, saat ini masih dalam proses membangun Pondok Pesantren Tanah Jawi. Cak Diqin sendiri yang mendidirikan, mempelopori, mencetuskan dan menggerakkan pembangunan ponpes yang sudah berjalan dua tahun.

Sebelumnya di Resto Pawon Glagahan itu juga dibikin pengajian rutin malam Sabtu Kliwon. Karena jemaah yang terus membeludak, Cak Diqin akhirnya membuat tim.

"Jemaah ini ndadi, ayo gawe pondok (jemaah semakin besar, ayo mendirikan ponpes). Mengko dicukupi Gusti Allah piye carane (nanti biayanya dicukupi Allah, bagaimana caranya). Akhirnya mengumpulkan satu tim, dibikinlah yayasan, awalnya dari tanah 2.000 (meter persegi), tambah jadi 4.000 dan sekarang jadi 6.000 meter persegi," papar Nyimut.

Sementara itu, di rumah Cak Diqin di Dusun Ngangkruk, Desa Ngaru-aru, Kecamatan Banyudono juga didirkan rumah Alquran sejak dua bulan terakhir.

"Alhamdulillah, di rumah ada hotel, ada penginapan, terus sekarang ditutup. Bikinlah Cak Diqin Rumah Quran As Shodiqin di rumah di Ngangkruk. Ngumpulin santri-santri yang mau menghafal quran. Punya duit mbayar'o, ora duwe duit ya rapopo, sing penting ayo ngaji (punya uang bayarlah, tidak punya tidak apa-apa, yang penting ayo mengaji,Red)," ucap Nyimut.

"Semoga itu menjadi sangune (bekal) Cak Diqin ke surga," tandas dia. (rgl/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#Rumah Alquran #seniman #Cak Diqin #Pondok Pesantren