Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Borneo Charm, Gambarkan Eksotisme Burung Enggang: Bawa Pesan Selalu Mencintai Satwa

Mannisa Elfira • Minggu, 21 Januari 2024 | 16:10 WIB
MEMUKAU: Penampilan Komunitas Lingkar Memayu Nusantara dengan Tari Borneo Charm di Solo Is Solo, Sabtu (30/12/23).
MEMUKAU: Penampilan Komunitas Lingkar Memayu Nusantara dengan Tari Borneo Charm di Solo Is Solo, Sabtu (30/12/23).

RADARSOLO.COM - Eksotisme burung enggang, hewan asli Kalimantan dikemas menjadi sebuah tarian tradisi kreasi berjudul Borneo Charm. Tarian ini dibawakan dari Komunitas Lingkar Memayu Nusantara dalam ajang Solo Is Solo.

Jarum jam menunjukkan pukul 22.00. Rintik gerimis hujan tak berhenti turun ke Kota Solo malam itu.

Kendati demikian, tiga perempuan dari Komunitas Lingkar Memayu Nusantara tetap meliuk-liukkan badannya membawakan tari yang sangat harmoni dengan iringan musik tradisi dan kontemporer ini.

Para pengunjung pun terbius dengan penampilan tiga perempuan itu. Tepukan tangan pun mulai terdengar.

Waktu empat menit tak cukup bagi mereka untuk melihatnya. Tak heran jika banyak yang bilang 'kurang lama mbak'.

"Durasi tari normalnya itu empat menit. Jadi kami juga tampil sekira empat menit. Mungkin karena kami pakai musik kontemporer yang nge-beat kekinian. Jadi terasa lebih cepat," ujar Ketua Komunitas Lingkar Memayu Nusantara Fitri Anekawati.

Musik campuran tradisi dan modern ini mengiringi tarian Borneo Charm. Tari tradisi kreasi yang mencerminkan keelokan burung asli Kalimantan, burung enggang yang tengah terbang ke alam bebas. 

"Kami menggambarkan eksotisnya burung enggang. Makanya gerakannya itu ada kepak sayap. Kemudian hentakan kaki. Ini seperti burung yang sedang menggebaskan sayapnya atau sedang mekar," imbuh dia.

Kostum yang dipakai malam itu bersifat kontemporer. Para penari berusaha meracik dan mengkreasikan kostumnya sendiri.

Warnanya mayoritas bernuansa hitam. Sementara bulu yang dipakai itu bulu angsa, bukan bulu enggang asli. 

"Kami berusaha pakai kostum yang kontemporer, kalau pakai kostum asli burungnya harus dari kalimantan. Makanya kami cara cara bagaimana mengkreasikan supaya pesannya itu sampai tanpa membunuh burung aslinya," ujar Fitri.

Sebagai informasi, enggang termasuk burung yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang.

Sebab itu, Fitri dkk ingin mengkampanyekan supaya semua mencintai hewan yang tengah dilindungi.

"Jadinya ikut melindungi potensi daerah lain. Khususnya satwa liar yang dilindungi oleh undang-undang. Agar dalam menggunakan kostum ketika hanya untuk entertain, tidak pada sakral adat tradisi, tidak pada sakral pemujaan atau ritual itu lebih baik menggunakan kostum-kostum yang kreasi. Dengan begitu melindungi juga hewan hewan liar satwa liar yang sudah punah," papar penggiat seni budaya tersebut

Uniknya lagi, satu di antara tiga penari tersebut merupakan orang Kalimantan asli. Dia bisa menjelaskan terkait daerahnya kepada penjungung. Dia adalah Rahmawati.

Sementara satu penari lainnya yakni Maharani dari Surabaya. Tak heran, memang anggota komunitas Lingkar Memayu Nusantara terdiri dari anak-anak muda dari berbagai daerah yang punya potensi mengembangkan budaya lokalnya masing-masing.

"Kebetulan mereka kuliahnya di Solo. Nah saya yang mendampingi. Di sini mereka mengembangkan seni tari tradisi masing-masing. Tak hanya itu, melainkan juga kuliner, craft, dan lain-lain," jelas Fitri.

Dengan adanya komunitas dan pementasan ini, Fitri menekankan bahwa setiap generasi muda punya kesempatan dimanapun dia berada untuk tetap membawa kebudayaan daerah masing-masing.

"Dari sini juga bisa diambil pesan bahwa budaya mempersatukan para pemuda-pemudi. Walau sebenarnya dia bukan orang Solo tapi dia bisa berkenalan sama orang Solo, membaur, bertoleransi," tambahnya. (nis/bun)

Editor : Damianus Bram
#Borneo Charm #Komunitas Lingkar Memayu Nusantara #burung enggang