Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

12 Kelompok Teater Unjuk Gigi di Sala Hatedu #11, Ndadak Teater Sragen Sajikan Kisah Perempuan yang Terjerat Hutang dan Jatuh di Prostitusi

Mannisa Elfira • Senin, 11 Maret 2024 | 00:21 WIB
Penampilan Ndadak Teater Sragen dalam ajang Sala Hatedu #11 di Pendapa Ageng, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (6/3/2024)
Penampilan Ndadak Teater Sragen dalam ajang Sala Hatedu #11 di Pendapa Ageng, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Rabu (6/3/2024)

RADARSOLO.COM - Agenda tahunan oleh Omah Kreatif ARTurah bertajuk Sala Hatedu #11, kembali menghiasi Kota Solo.

Event ini dimeriahkan 12 kelompok teater di Pendapa Ageng dan Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), 4-7 Maret.

Ada yang menarik di hari ketiga Sala Hatedu #11, Rabu (6/3/2024). Di mana seniman asal Sragen yang tergabung dalam Ndadak Teater tampil di atas panggung.

Disusul persembahan dari Teater Laborta Surakarta. Sebelumnya, Sala Hatedu #11 diawali perform kelompok teater Sigeg Wanodya dan Teater Dapunta Jakarta.

Tampil di urutan ketiga, Ndadak Teater Sragen menyajikan topik soal perempuan. Dalam pertunjukan tersebut, terdapat lima pemain yang berlakon di Pendapa Ageng. Berfokus pada seorang wanita bernama Suli.

Di awal cerita, lima pemain latar anak-anak disajikan oleh kelompok ini. Terlihat dari nyanyian lagu padang bulan yang pemain dengungkan.

Berlanjut ke permainan tradisional seperti 'hompimpa alaium gambreng' dan bak delikan (petak umpet).

“Itu memang tentang anak-anak sebenarnya. Anak-anak waktu kecil kan imajinasi, angan-angan, cita-cita itu tinggi. Tapi semua tergerus oleh beberapa faktor. Ada faktor ekonomi, kehidupan keras, dan sebagainya,” ujar sutradara Ndadak Teater Sragen Beyrul An'am.

Sebagai contoh si Suli saat berubah menjadi sossok dewasa. Perempuan yang menggenakan baju polkadot tersebut ternyata terjerat belenggu ekonomi. Hingga terlilit hutang dan dikejar-kejar rentenir.

Tak lama kemudian, datanglah seorang penguasa yang digambarkan sebagai lurah. Lurah tersebut mencoba membantu Suli dengan melunasi hutangnya. Namun ternyata itu sebuah jebakan.

Mengapa seperti itu? Ternyata Suli diminta mengembalikan uang si lurah. Namun Suli tak punya uang.

Untuk itu, si lurah menawarkan bisnisnya kepada Suli. Bisnis tersebut dikatakan memberi makan burung, kiasan dari dunia prostitusi.

Cita-cita Suli sebenarnya sederhana. Jadi ibu rumah tangga dan menikah dengan pacarnya (pria memakai blangkon). Tapi ketika dewasa ekonominya terpuruk.

Punya hutang lalu ditebus lurah. Lurah itu representasi orang berkuasa, tapi menjalankan bisnis haram,” jelas Beyrul.

Akhirnya Suli gagal menggapai mimpinya. Justru terjerumus sebagai wanita tuna susila. Kemudian terjadi penyesalan. “Suli ingin kembali ke masa lalu,” imbuhnya.

Cerita ini diangkat dari sebuah keresahan. Latar belakangnya adalah penggusuran tempat prostitusi, karena proyek penataan kota di suatu tempat.

Sehingga wanita pekerja di sana tidak lagi memiliki lahan. Akhirnya lapaknya pindah dan berdampak pada faktor ekonomi. 

“Penulisan naskahnya memang inspirasi saya, kemudian didiskusikan. Enaknya bagaimana, framing kasus apa, mau menyimbolkan apa? Akhirnya ketemu karakter-karatker yang ditampilkan,” bebernya.

Beyrul menjelaskan soal karakter si lurah. Dalam karya ini, si lurah mengenakan baju yang ditempeli sampah. Sampah itu menyimbolkan uang.

“Sebenarnya kekuasaannya hanya kedok. Semua sampah. Maksudnya seperti itu,” ujarnya.

Disinggung proses, Beyrul mengaku sesi blocking hanya butuh latihan dua pekan. Namun untuk pencarian ide tema problematika, butuh waktu sekira tiga bulan.

“Sudah digodok, lalu dibongkar lagi. Jadi bongkar-pasang,” bebernya. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#teater #prostitusi #hutang #Omah Kreatif ARTurah #Sala Hatedu