RADARSOLO.COM - Masyarakat Kota Solo dihibur kesenian tradisional, dalam agenda Reog in Solo, Jumat-Sabtu (19-20/4/2024).
Pertunjukan tersebut melibatkan 22 kelompok reog dari berbagai daerah. Termasuk dari daerah asalnya, Ponorogo, Jawa Timur.
Mendung menyelimuti langit Kota Solo, pada Jumat sore (19/4). Terlihat banyak orang berbondong-bondong, menyemut di halaman Balai Kota Solo.
Mereka sibuk mencari ruang yang kosong untuk duduk. Dengan sabar menanti penampilan kesenian asli Indonesia, Reog Ponorogo.
Tak lama berselang, alunan suara terompet terdengar nyaring. Lalu muncul empat reog memasuki halaman. Mempertunjukkan atraksi topeng menyerupai harimau, dengan hiasan merak beserta bulu indahnya.
Sesuai ciri khasnya, keempat reog itu menggoyangkan kepala ke kanan dan ke kiri. Sesekali mereka memutar badan. Tak lupa, ada atraksi akrobatik dengan melakukan gerakan kayang. Sontak, atraksi mereka panen tepuk tangan dari ratusan penonton.
Setelah itu, penonton diminta berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Itulah sekelumit gambaran pembuka agenda Reog in Solo.
Disusul aksi panggung dari IAIN Watoe Dakon Ponorogo yang digawangi 50-an personel. Ada yang menabuh gamelan, penari reog, penari jathilan, warok, maupun bujang ganong.
“Sekarang reog sudah merasuk ke akar tradisi masyarakat seluruh Indonesia. Sebagai bentuk gotong royong, silaturahmi, dan kebersamaan dalam sebuah sinopsis cerita,” kata pembina kelompok reog IAIN Watoe Dakon Ponorogo Haris Riyandoko.
Haris mengaku Reog in Solo sebagai wadah silaturahmi antarpegiat reog se tanah air. Selain itu, juga ajang unjuk kreativitas masing-masing kelompok dalam menyajikan tarian reog.
“Insya Allah ada yang berbeda dari kami. Kalau kesenian tradisi reog itu, dari sisi penampil terutama yang jathilan, kan tidak pakai jilbab. Kalau kami memakai jilbab, menyesuaikan dengan visi dan misi lembaga kampus,” beber pria yang akrab disapa Jabrik ini.
Jabrik sangat mengapresiasi hadirnya Reog in Solo. Dia berharap event serupa bisa digelar rutin tahunan. Mengingat perkembangan kesenian reog saat ini cukup masif.
“Dalam artian perkembangan reog di Ponorogo dan di seluruh Indonesia luar biasa sekali. Di Solo dulu minim yang menggeluti reog. Sekarang jumlahnya banyak. Di Ponorogo juga demikian. Berkembang pesat dari anak-anak, dewasa, dan orang tua,” ujarnya.
Sementara itu, reog berkisah tentang Prabu Kelana Suwandana dari Kerajaan Bantarangin, yang ingin melamar putri Kerajaan Kediri Dewi Sanggalangit. Namun ada syarat yang harus dipenuhi.
“Syaratnya, harus ada pasukan berkuda. Kemudian semacam petunjukan kesenian dan hewan berkepala dua. Prabu Kelana Suwandana sudah menyiapkan pasukan berkuda, keseniannya juga sudah siap. Tingga mencari hewan berkepala dua,” urai Jabrik.
Di tengah perjalanan ke Kediri, lanjut Jabrik, rombongan melintasi kawasan Nglodoyo. Digambarkan pada zaman dulu, wilayah tersebut terkenal angker.
Di sana ada penguasa bernama Singo Lodro atau Singo Barong. Sosok manusia berkepala harimau dan di atasnya merak.
“Kemudian Prabu Kelana Suwandana bertempur melawan Singo Barong. Pertempuran dimenangi Prabu Kelana Suwandana. Setelah itu Singo Barong dibawa ke Kediri untuk melamar Dewi Songgolangit. Seperti itu ceritanya,” hemat Jabrik. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram