Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tari Petani Ayu by Sanggar Sukoasih, Simbol Kekayaan Bangsa Agraris

Mannisa Elfira • Minggu, 21 Juli 2024 | 23:34 WIB
GEMULAI: Aksi panggung penari Sanggar Sukoasih saat membawakan tarian Petani Ayu dalam Festival Suara Petani di Lokananta, 12 Juli lalu.
GEMULAI: Aksi panggung penari Sanggar Sukoasih saat membawakan tarian Petani Ayu dalam Festival Suara Petani di Lokananta, 12 Juli lalu.

RADARSOLO.COM - Bakul berisi padi ditenteng sejumlah penari, yang menggenakan kebaya batik motif kutu baru.

Mereka adalah para penari dari Sanggar Sukoasih, yang menyajikan tarian Petani Ayu dalam Festival Suara Petani di Lokananta, 12 Juli lalu.

Tangannya ukel-ukel. Menggambarkan seorang petani yang tengah memetik padi kualitas jempolan.

Badannya geal-geol, menandakan keceriaan saat bertani di sawah. Sedangkan wajahnya semringah, menggambarkan hati nan riang gembira.

“Suasana bertambah gembira dengan adanya pemilihan kostum kebaya kutu baru. Cerminan ciri khas perempuan Jawa. Dipadu padan dengan jarik motif grudo, perlambang gagahnya para srikandi pertanian Jawa,” ujar komposer tari Petani Ayu yang juga owner Sanggar Sukoasih Fitri Anekawati kepada Jawa Pos Radar Solo, belum lama ini.

Fitri menambahkan, gerakan memutar dalam tari Petani Ayu, merupakan penguasaan sistem pertanian sesuai ciri khas petani Jawa.

Merepresentasikan kaum perempuan yang memilki semangat tinggi, serta penuh rasa bersyukur atas kelimpahan hasil panen.

Karya tersebut diharapkan memacu generasi muda atau milenial untuk mencintai budaya pertanian. Ikut terjun melestarian pertanian, sebagai upaya menjaga ketahanan pangan.

“Tugas kita semua yang bukan petani, untuk mendukungpertanian lewat banyak hal. Ikut membantu melestarikan budaya pertanian. Sehingga ke depan akan saling memberikan manfaat,” imbuh Fitri.

Ditanya persiapan, Fitri mengaku butuh waktu sekira dua pekan. Soal tantangan yang dihadapi selama persiapan, dia mengaku para penarinya berasal dari berbagai daerah dan berbeda umur. Ada yang dari Boyolali, Karanganyar, hingga Kalimantan. Umurnya kisaran 13-18 tahun.

“Namun dengan tiga kali latihan intens dan gerakan sederhana, mereka semakin kompak dan bagus. Karena memang saya memilih gerakan yang sederhana. Semua orang bahkan bisa melakukannya,” ujarnya.

Sementara itu, Fitri memiliki harapan tersendiri dalam festival yang mengangkat tema khusus pertanian ini. 

Selaku pemilik sanggar tari tradisional, dia berharap ke depan akan muncul budaya-budaya pertanian yang berbeda dari tiap daerah.

“Sehingga membantu sistem pertanian supaya seimbang dan berkelanjutan. Sehingga orang melihat ini sebagai kesenian yang memasyarakat,” papar Fitri. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Tarian Petani Ayu #Festival Suara Petani #lokananta #Sanggar Sukoasi