Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Gereja Muda Karya Mike Hapsari, Representasi Rahasia Hidup

Mannisa Elfira • Senin, 29 Juli 2024 | 16:19 WIB
EKSPRESIF: Perform bertajuk Gereja Muda oleh Mike Hapsari dkk di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan Solo, Senin (22/7/2024).
EKSPRESIF: Perform bertajuk Gereja Muda oleh Mike Hapsari dkk di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan Solo, Senin (22/7/2024).

RADARSOLO.COM - Mekratingrum “Mike” Hapsari menginterpretasikan idenya ke sebuah gerakan karya dalam kurun satu bulan.

Hingga muncul sebuah karya “Gereja Muda” yang ditampil di Gereja Katolik Santo Antonius Padua Purbayan Solo, Senin (22/7/2024).

Rangkaian aktivitas dalam karya Gereja Muda, mencerminkan kebiasaan Mike dalam kurun tiga tahun belakangan. 

Mike kerap melaksanakan praktik performance by instructions. Petunjukkannya ke publik menghasilkan surat-surat dari penonton yang turut melebur. 

“Dari situ saya juga tertarik. Maksudnya, dalam praktik itu kenapa orang-orang hadir dan mereka secara spontan ikut menjadi bagian dari performance saya,” beber Mike kepada Jawa Pos Radar Solo.

Menurut Mike, beberapa tahun lalu ada bagian perform Gereja Muda yang diambil dari karya A Day to Remember. Saat itu, dia memberikan secarik kertas yang diisi pantikan pertanyaan.

“Jadi, Gereja Muda itu berawal dari kumpulan surat yang saya simpan selama tiga tahun, melalui tiga karya saya. Saya menyadari, kumpulan surat itu sangatlah kuat pengaruhnya. Sangatlah penting sebagai payung besar sebuah rahasia, konflik, dan kepercayaan,” beber mahasiswa ISI Surakarta tersebut.

Ciptaan ini dipertontonkan Mike, berserta sejumlah penari di Gereja Purbayan. Terkait pemilihan gereja, Mike mengaku bukan tanpa alasan.

“Saya umat Katolik. Tapi jujur, saya jarang ke gereja. Gereja saya pilih karena benar-benar memberikan tantangan tersendiri,” imbuhnya.

Dalam karya Gereja Muda, Mike berusaha membaca ulang pemaknaan dari ibadah misa, yang mana dilakukan tiap Sabtu dan Minggu. Mike menyebut dalam ibadah misa ada empat bagian. 

Bagian pembuka terdapat liturgi sabda, di mana umat mendengarkan ayat-ayat yang dibacakan. Kemudian ada liturgi ekaristi dan penutup. 

“Saya berusaha membaca ulang. Bahwa dalam liturgi sabda itu, sama halnya ketika kita mendengarkan ayat-ayat, atau surat-surat, atau mungkin catatan-catatan lama dari orang-orang terdahulu,” urainya.

Mike menambahkan, catatan-catatan tersebut memberi kesaksian atas kehidupan di masa lampau. Tentang apa yang mereka percayai dan mereka lihat.

“Sebenarnya saya juga memaknai liturgi sabda itu, adalah memberi contoh tentang gambaran permasalahan, rahasia, kehidupan, singgungan konflik, dan lain sebagainya. Dijadikan sebagai inspirasi bagi orang-orang sekarang, untuk menjalani kehidupan mereka,” beber Mike.

Mike merasa, setiap rumah ibadah memiliki energi rahasia yang sangat kuat. Terkadang jemaatnya hadir menghadap ke satu arah. Tidak berbicara satu dengan yang lain. Mereka berkomunikasi dua arah dengan entitas yang dipercayai.

 “Tapi meski kita berbicara dua arah dengan entitas yang kita percayai, keberadaan orang di depan, di kanan, kiri, dan belakang itu juga bisa menjadi support,” tuturnya.

Soal karya Gereja Muda, Mike mengaku berangkat dari pengalaman saat berkunjung ke Italia, 2018 lalu. Di sana gereja tersebar di mana-mana.

“Pengalaman saya saat itu, mencoba masuk ke dalam beberapa gereja. Cuma yang sangat disayangkan, kenapa si sana gereja beralih fungsi. Mengapa orang sudah tidak lagi berdoa di sana, tapi berwisata. Berfoto dan lain sebagainya,” ujarnya.

Mike menemukan fakta, di Italia hanya segelintir saja orang yang ke gereja untuk beribadah.

“Apakah sesuatu hal yang tua itu mulai ditinggalkan? Atau mungkin orang-orang yang datang ke gereja sudah tua? Mungkin sangatlah tua? Saya tidak melihat spirit mudanya atau anak-anak mudanya,” jelasnya.

Itulah mengapa, di Gereja Muda ini Mike ingin memunculkan spirit generasi muda. Generasi yang berani bersuara dan menerima pengalaman masa lampau.

“kembali lagi, ini masuk ke sistem  komunikasi yang biasa kita lakukan setiap hari. Terkadang kita hadir di suatu meja, lalu bercerita tentang sesuatu. Kita tidak butuh untuk diberi solusi. Tapi kita hanya ingin didengar dan dipahami,” ujarnya. (nis/fer)

Editor : Damianus Bram
#Mike Hapsari #performance #Gereja Muda #Mekratingrum #Gereja Katolik Santo Antonius