RADARSOLO.COM - Mengenakan gaun nan anggun, tujuh penari perempuan masuk ke Pendapa Gedhe, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis malam (8/8/2024).
Penari-penari asal Kabupaten Batang tersebut membawakan tari Serabi Kalibeluk, dalam gelaran Pasar Raya di TBJT.
Tari Serabi Kalibeluk mengisahkan tentang kuliner khas yang lekat di lidah masyarakat Kabupaten Batang.
Koreografer tari Serabi Kalibeluk Adilah Endarini menceritakan sedikit sejarah mengenai kuliner ikonik tresebut.
Kuliner tersebut dulunya dikembangkan oleh Nyai Rantansari. Putri dari warga Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Ternyata, Nyai Rantansari saat itu dalam penyamaran.
“Sultan Agung dulu suka sama Dewi Rantansari. Namun Dewi Rantansari punya kisah asmara dengan Bahurekso. Akhirnya Dewi Rantansari mengutus gadis asal Kalibeluk, untuk menyamar menjadi dirinya,” kata Adilah kepada Jawa Pos Radar Solo usai tampil.
Gadis yang menyamar menjadi Dewi Rantansari, merupakan anak penjual serabi. Sayangnya, penyamaran tersebut akhirnya ketahuan.
“Kemudian mengaku bukan Dewi Rantansari, melainkan hanya anak seorang penjual serabi. Tapi dia tidak dihukum atas kesalahannya. Tapi didoakan supaya meneruskan kuliner khas serabi Kalibeluk,” imbuhnya.
Adilah menambahkan, tarian tersbeut menyajikan tata cara pemmembuat serabi Kalibeluk. Empat penari menggunakan properti tampah, sedangkan tiga lainnya memegang tongkat.
“Kami menyajikan tari, lebih ke arah properti pembuatannya. Termasuk menggambarkan gadis penjual serabi di Kalibeluk,” bebernya.
Terkait proses pembuatan serabi, Adilah mengaku berasal dari beras yang ditumbuk. Kemudian dicampur adonan dan dimasukkan ke cetakan. Setelah itu dimasak dengan menggunakan api dari bara arang.
“Mengapa pakai tampah? Karena biasanya membuat serabi Kalibeluk pakai tampah,” ujar Adilah.
Ditanya persiapan sebelum tampil di Pasar Raya TBJT, Adilah mengaku hanya butuh waktu sekira tiga pekan.
“Kalau tarian Serabi Kalibeluk ini sudah ada sejak 2017,” ungkapnya. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram