RADARSOLO.COM - Pamedan Pura Mangkunegaran akan menjadi saksi hidupnya kembali kebudayaan tradisional nusantara.
Kolaborasi lintas generasi bakal ditampilkan lewat drama teatrikal Pancarona Nusantara.
Antonia Filicia Esa Rindi, wanita di balik panggung megah ini, bersama ratusan anak muda, bersatu untuk satu tujuan menjaga agar budaya tradisional tetap lestari.
Di tengah persiapan mendekati hari-H, Esa terlihat sibuk di markas Sandhya Production.
Di sana, dia dan timnya membahas detil demi detil pertunjukan yang akan menjadi puncak dari rangkaian kegiatan Metakultura Nusantara, Sabtu malam (21/9/2024).
Tidak mudah menyatukan ratusan orang dengan latar belakang yang berbeda-beda, tetapi Esa melihat ini sebagai kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya tradisional masih relevan dan bisa dikemas dengan menarik.
“Metakultura Nusantara ini memang sebuah rangkaian, dan Pancarona Nusantara menjadi penutup yang penuh makna. Kami ingin menampilkan keindahan dan keragaman budaya dari seluruh pelosok Indonesia, dari Sumatera hingga Papua, dengan gaya yang lebih segar namun tetap otentik,” ungkap Esa dengan penuh semangat.
Apa yang membuat Pancarona Nusantara berbeda adalah upaya menghidupkan kembali budaya tradisional melalui pendekatan modern.
Dengan durasi satu jam, drama musikal ini akan menjadi jendela bagi penonton untuk melihat bagaimana warisan budaya Indonesia bisa diterjemahkan oleh generasi muda dengan penuh kreativitas.
Tidak hanya seni pertunjukan, tetapi juga elemen musik tradisional, seperti angklung, akan menjadi bagian dari cerita yang disajikan.
"Kami melibatkan sekitar 750 peserta, di mana 445 di antaranya akan memainkan angklung. Kami ingin menunjukkan bahwa angklung dan kesenian tradisional lainnya bisa menjadi bagian dari cerita modern yang penuh warna," jelas Esa.
Bukan perkara mudah untuk mengumpulkan dan melatih ratusan peserta yang mayoritas masih berstatus pelajar.
Mereka berasal dari berbagai sekolah di Solo dan sekitarnya, seperti SMAN 7 Solo, SMA Regina Pacis, hingga kelompok paduan suara Gereja St Antonius Padua Purbayan.
Dengan keterbatasan waktu dan ruang, latihan dilakukan bergantian, sering kali melawan waktu dan tenaga.
"Kami harus pintar-pintar mengatur waktu. Latihan dilakukan secara bergiliran, sesuai dengan waktu dan tempat yang tersedia. Latihan bersama baru bisa dilakukan saat gladi resik nanti," tutur Esa sambil tersenyum.
Bagi Esa, Pancarona Nusantara adalah kelanjutan dari perjalanan panjangnya dalam melestarikan kearifan lokal.
Sebagai seorang yang aktif di kegiatan gereja dan pernah mengikuti program guru penggerak, dia sudah lama menggabungkan konsep pendidikan merdeka belajar dengan pelestarian budaya.
Proyek ini, yang berawal dari lingkup gereja pada 2008, kini tumbuh menjadi sebuah gerakan budaya yang lebih luas dan inklusif.
"Saya mulai dari lingkungan gereja, kemudian merambah ke khalayak umum. Dari 2022, saya mencoba menarik anak-anak dan remaja melalui lokakarya permainan tradisional. Hasilnya, Metakultura Nusantara 2024 ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional masih bisa menggugah semangat generasi muda," ujarnya penuh antusias.
Meski pendanaan acara ini sebagian besar dilakukan secara swadaya dan dengan bantuan donatur, semangat tidak surut.
Dukungan dari para pegiat budaya, termasuk Maestro Tari Didik Nini Towok, menjadi dorongan tersendiri bagi Esa dan tim untuk terus berkreasi.
Harapannya, ke depan, pemerintah dan lembaga terkait bisa lebih mendukung upaya pelestarian budaya seperti ini. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram