RADARSOLO.COM - Ada sisi menarik dari gelaran Festival Payung Indonesia XI di Taman Balekambang Solo, 6-8 September lalu.
Di sela festival, terdapat pertunjukan tari Selendang Dewi Sri yang dibawakan Sanggar Suko Asih. Mengangkat sosok Dewi Sri sebagai perlambang kesuburan.
Terik sinar matahari memancar di Taman Balekambang Solo, awal September lalu. Satu per satu penari mulai memasuki panggung Festival Payung Indonesia.
Mereka adalah penari-penari dari Sanggar Suko Asih. Mereka dengan gemulai memainkan tarian Selendang Dewi Sri.
“Misi dari karya ini adalah, untuk melestarikan adat pertanian yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Menggambarkan suka duka petani, hingga dampak yang ditimbulkan bagi lingkungan,” kata owner Sanggar Suko Asih sekaligus koreografer Fitri Anekawati.
Keresahan-keresahan para petani coba dituangkan dalam karya ini. Termasuk bagaimana manusia dengan serampangan mengolah lahan. Tanpa mempedulikan analisis dampak lingkungannya.
“Yang terjadi (salah satunya) adalah banjir. Kemudian kesadaran masyarakat yang kurang terhadap penanaman. Berbeda dengan zaman dahulu, ketika masih ada program apotik hidup. Ada tanaman yang berusaha semaksimal mungkin dikelola di pekarangan rumah sendiri,” imbuh Fitri.
Selendang Dewi Sri juga merupakan sebuah kritisi dalam bentuk karya pertunjukkan. Harapannya, penonton yang menyaksikan suguhan ini sadar akan pentingnya mencintai dan menjaga bumi pertiwi.
“Dari simbol pertanian itu, Dewi Sri menggunakan warha hijau dan kuning. Merupakan pareanom atau lambang padi,” bebernya.
Jadi tak mengherankan jika properti yang digunakan para penari, lebih menonjolkan padi-padian. Seperti di belakang sanggul dan di dalam kendi yang dibawa para penari.
“Sosok Dewi Sri itu selalu menggunakan identitas ada padi di atasnya. Karena Dewi Sri begitu menjaga dan melestarikan bumi,” ujarnya.
Menurut asal usulnya, lanjut Fitri, Dewi Sri dikutuk hingga harus turun ke bumi. Tugasnya adalah menjaga pertanian dan kesuburan tanah.
Tak sendirian, Dewi Sri juga ditemani sejumlah petani, kerbau, dan lain sebagainya.
“Cerita Dewi Sri mengadopsi dari kisah Kebo Kinul. Kebo Kinul itu sudah masuk dalam kesenian yang dilindungi dan dilestarikan. Warisan budaya tak benda yang sudah terdaftar di UNESCO. Nah, jadi inspirasinya dari itu,” tuturnya.
Dalam kisah Kebo Kinul, Dewi Sri merasakan kesedihan. Sekaligus kritik sosial untuk masyarakat di zaman modern ini. Di mana lebih memilih menggunakan bahan-bahan kimia saat pemupukan. Serta meninggalkan bahan-bahan alami yang tersedia. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram