RADARSOLO.COM - Pertunjukan On Stage oleh Studio Plesungan kembali hadir di Taman Budaya Jawa Tengah, belum lama ini. Edisi ke-20 kali ini menyuguhkan karya berjudul Kincia Aia : Cultural Jamming oleh Rani Jambak.
Kincia Aia merupakan sebuah perangkat teknologi irigasi dan pangan tradisional masyarakat Minangkabau yang didesain ulang dan dialihgunakan menjadi instrumen musik. Hal tersebut dijelaskan oleh penampil, Rani Jambak.
"Sejak instrumen ini diciptakan, saya banyak menceritakan mengenai kekayaan kebudayaan Minangkabau dan kondisi Air yang semakin memprihatinkan," jelas Rani kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Fakultas Seni Pertunjukan ISI Solo Gelar Misi Budaya di Singapura: Antusiasme Publik Ruaarrr Biasa
Pada 2022, Rani mengalihfungsikan Kincia Aia menjadi instrumen musik. Dia memadukan sistem kinetik tradisional dengan teknologi sensor. Ini diciptakannya saat mengikuti program Musicians in Residence yang diselenggarakan oleh British Council, dengan tuan rumah Huddersfield Contemporary Music Festival.
"Pada masa residensi tersebut, saya ingin menghubungkan Minangkabau dengan kota Huddesrfield. Huddersfield sangat terkenal dengan sejarah kota industri dan kanal-kanal tua. Pada masa itu pula, saya menemukan ketertarikan dengan Kincia Aia (Kincir Air) yang unik dari Minangkabau, Sumatera Barat. Maka saya menghubungkan 2 kebudayaan ini melalui air," papar Rani.
Dalam prosesnya, Rani membayangkan Kincia Aia yang hampir punah ini untuk tetap bisa berputar. Karena latar belakang Rani adalah pemusik, maka dia terpikir untuk mengalihfungsikan Kincia Aia sebagai instrumen musik.
"Dengan memanfaatkan alu-alu sebagai penumbuk bahan makanan di Kincia menjadi penumbuk yang bisa menghasilkan bunyi yang beragam. Saya memadukan sistem kinetik tradisional dengan teknologi sensor, menghasilkan potensi komposisi musik dengan tempo yang statis, dilengkapi dengan kekayaan perbendaharaan bunyi dari field recording," beber Rani.
Banyak tahapan riset yang dilalui Rani untuk melahirkan karya ini. Mulai dadi wawancara, riset tulisan, riset lapangan -mencari Kincia Aia yang masih aktif, dan menemukannya di Koto Tuo- dan riset sungai.
"Dalam prosesnya, saya banyak trial error dalam memilih material yang paling efisien, proses coding, hingga bongkar pasang material untuk sistem kinetik itu sendiri. karena Kincia Aia yang saya buat pertama kali berukuran tinggi 2 meter, dengan alu-alu lebar 2 meter," paparnya.
Setelah setahun berdomisili di Solo, Rani tertarik agar Kincia dapat berinteraksi dengan instrumen musik dari latar kebudayaan yang berbeda. Melalui jamming dan improvisasi, Kincia Aia : Cultural Jamming mencoba membuka kemungkinan perkembangan wacana atas Kincia Aia melalui dialog lintas budaya dalam musik.
"Kincia Aia sebagai instrumen tidak bisa lepas dari latar belakang kebudayaan Minangkabau. Melalui pertunjukan ini, saya ingin membawa kincia dalam wacana jamming kultural. Di mana saya mengajak kolaborasi teman baik saya, Wahyu Thoyyib Pambayun, salah satu pemain gamelan yang sangat kreatif," ucapnya.
Dalam hal ini, Wahyu Thoyyib Pambayun ikut memainkan gender yang sudah diamplifikasi, sehingga bisa dimainkan dengan berbagai efek digital.
Melalui kolaborasi ini, mereka memadukan idiom Jawa yang Minangkabau, meski dalam satu sisi yang lain keduanya memiliki kesamaan dalam memberikan inovasi instrumen dengan sentuhan elektronik.
"Di karya yang lain, saya juga memainkan komposisi baru berjudul "Jalan Gajah". Karya ini merupakan hasil kolaborasi kultural sebagai ibu rumah tangga yang tinggal di jalan gajah, yang saya sendiri baru pertama kalinya aktif mengikuti organisasi PKK.
Maka segala suara yang sering saya dengar selama tinggal di jalan gajah, lagu-lagu yang dinyanyikan, serta informasi-informasi yang disampaikan pada pertemuan PKK saya rekam, kemudian saya olah menjadi komposisi baru yang dimainkan dengan Kincia Aia," ucapnya.
"Tempo statis alu-alu, memberi limitasi, juga kemungkinan-kemungkinan baru dalam sebuah komposisi. Secara keseluruhan, Cultural Jamming yang saya tawarkan dalam pertunjukan tersebut adalah dialog 2 budaya melalui musik dan instrumentasi," sambungnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy