Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ikut Serta dalam Simposium Internasional di Guangzhou, Peni Candra Rini Kupas Musik Maritim di Nusantara

Mannisa Elfira • Minggu, 22 Desember 2024 | 17:46 WIB
MENDALAMI: Peni Candra Rini menampilkan karya komposisinya di acara Dialogue between History and Contemporary: Music Culture along the Maritime Silk Road 2024
MENDALAMI: Peni Candra Rini menampilkan karya komposisinya di acara Dialogue between History and Contemporary: Music Culture along the Maritime Silk Road 2024

RADARSOLO.COM - Seniman multitalenta asal Kota Solo, Peni Candra Rini terus membawa harum nama Indonesia di kancah internasional.

Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini kembali menunjukkan dedikasinya dalam melestarikan budaya Nusantara melalui partisipasinya sebagai keynote speaker di acara Dialogue between History and Contemporary: Music Culture along the Maritime Silk Road 2024 (Guangzhou) International Symposium.

Acara yang berlangsung pada 12-15 Desember di Xinghai Conservatory of Music, Guangzhou, China, tersebut dihadiri oleh pakar musik dari seluruh dunia.

Tidak hanya menjadi pembicara utama, Peni Candra Rini juga menampilkan karya komposisinya.

Selain itu, momen penting dalam simposium ini adalah penandatanganan kerja sama antara Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta dengan Director Department of Music, Xinghai Conservatory of Music.

Dalam simposium ini, Peni bersama Andy McGraw, seorang etnomusikolog dari University of Richmond, Amerika Serikat, menyampaikan penelitian mereka tentang "heart-lute" atau kecapi jantung.

Alat musik petik tradisional ini memiliki sejarah panjang di wilayah maritim Asia Tenggara, termasuk Jawa, Kamboja, dan Thailand.

Melalui analisis ikonografi sejak abad ke-8, mereka menemukan bahwa instrumen ini sering dikaitkan dengan konteks romantik atau religius.

"Instrumen ini memiliki sifat akustik yang sangat unik. Suara lirihnya menciptakan suasana intim yang cocok untuk hubungan interpersonal atau hubungan spiritual dengan Tuhan," jelas Andy McGraw dalam abstraknya.

Peni dan McGraw juga membandingkan akustik kecapi jantung dengan lanskap musik kontemporer.

Mereka menyoroti bagaimana alat musik tradisional ini, dengan suara yang lirih, berbeda jauh dari instrumen Barat modern yang cenderung mengutamakan volume dan amplifikasi untuk menjangkau audiens lebih luas.

Dalam penelitiannya, Peni mengungkapkan bagaimana kecapi jantung mengalami transformasi dalam budaya musik Asia Tenggara.

Di Thailand, alat musik ini digantikan oleh gitar Barat di abad ke-20, menandai pergeseran dari tradisi akustik intim ke alat musik yang lebih mengutamakan daya jangkau suara.

Simposium ini menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan pandangan sejarah dan kontemporer dalam budaya musik.

Dengan kehadiran Peni Candra Rini, Indonesia menunjukkan kontribusinya dalam memperkaya diskursus musik dunia, sekaligus mengangkat keberagaman budaya Nusantara ke panggung internasional.

Melalui penelitiannya, Peni tidak hanya melestarikan sejarah musik tradisional, tetapi juga membawa pesan bahwa musik adalah medium universal untuk menjalin hubungan antarmanusia dan dengan Sang Pencipta.

Kiprah Peni di Guangzhou menjadi inspirasi bagi seniman muda di Indonesia untuk terus melestarikan dan mengenalkan budaya Nusantara ke dunia. (nis/nik)

Editor : Damianus Bram
#Etnomusikolog #Peni Candra Rini #isi surakarta #Institut Seni Indonesia #Andy McGraw