RADARSOLO.COM - Duo Wening-Jepank belum lama ini meluncurkan dua lagu spesial Imlek yang diberi judul Imlek di Solo 1 dan Imlek di Solo 2.
Di kedua lagu tersebut, suasana Imlek khas Kota Bengawan dan semangat keberagaman dibingkai apik dalam lirik yang mudah dicerna oleh seluruh kalangan masyarakat.
Nuansa Imlek di Kota Solo memang sudah tampak terasa dengan gemerlap cahaya lampion di sekitar kawasan balai kota.
Beragam tradisi berbau Imlek juga sudah digelar. Nah, nuansa beda Imlek di Kota Bengawan ini membuat Wening Damayanti bersama koleganya Mr Jepank, yang merupakan musikus andal sekaligus komposer kenyang pengalaman ini, sepakat untuk meluncurkan lagu bertema Imlek pada tahun ini.
“Kami sengaja membuat dua lagu dengan nuansa berbeda. Imlek di Solo 1 lebih semangat menggambarkan kemeriahan, sedangkan Imlek di Solo 2 bernuansa romantis dengan dominasi alat musik tradisional China seperti Erhu,” terang Wening yang juga pengarang lagu ini saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo
Perempuan kelahiran Solo, 13 April 1980 ini mengatakan, dua lagu spesial itu tercetus setelah melalui diskusi panjang dan menyelami semarak Imlek di Solo dari waktu ke waktu.
“Ide ini muncul bukan mendadak, kami sudah diskusi sudah sejak akhir 2024. Semangatnya bagaimana kami bisa mendukung Kota Solo dalam branding kota toleransi yang kuat. Kebetulan kami gemar bermusik makanya kami branding lewat kedua lagu ini. Jadi spirit yang kita angkat ini adalah toleransi dan keberagaman,” jelas perempuan juga humas Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo itu.
Lagu Imlek di Solo 1 dengan lirik seperti, “Grebeg Sudiro ramai berseri, langkahkan kaki penuh semangat di hati” memotret event tahunan Grebeg Sudiro yang selalu menjadi magnet wisatawan.
Sementara Imlek di Solo 2 menyuguhkan nuansa musik mendayu dengan lirik seperti, “Lampion menyinari malam terang, barongsai berlari semangat membara.”
“Imlek di Solo itu bukan hanya milik warga Tionghoa. Semua orang dari berbagai latar belakang bisa merasakan kemeriahan dan manfaatnya. Inilah yang ingin kami sampaikan melalui lagu-lagu ini,” ujar Wening.
Momentum Imlek tahun ini dianggap Wening dan Mr Jepank sebagai waktu yang tepat untuk menyatukan masyarakat pascatahun politik yang melelahkan.
“Setelah pilpres, pileg, dan pilkada, kami rasa Imlek adalah waktu yang baik untuk merayakan keberagaman dan toleransi. Ini karya kecil kami untuk Solo,” ucapnya.
Tidak hanya itu, kedua musisi ini juga percaya bahwa karya ini memiliki daya guna jangka panjang. Mulai dari mendukung branding Kota Solo hingga menjadi bagian dari event nasional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Solo adalah kota dengan semangat toleransi yang kuat, dan tradisi seperti ini harus terus dipelihara,” tutup Wening.
Lagu Imlek di Solo menjadi bukti bahwa musik bukan hanya medium hiburan, melainkan juga sarana menyampaikan pesan persatuan dan penghormatan terhadap kebinekaan. Wening dan Mr Jepank berharap karya ini dapat menjadi bagian dari perjalanan budaya Solo yang penuh warna. (ves/bun)
Editor : Damianus Bram