Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Performance Art Kysha Ashreen: Perpaduan Yoga, Tari Jawa, dan Ekspresi Tubuh

Mannisa Elfira • Senin, 3 Februari 2025 | 17:50 WIB
PENUH MAKNA: Kysha Ashreen saat melakukan pementasan di Studio Plesungan, Rabu (29/1/2025).
PENUH MAKNA: Kysha Ashreen saat melakukan pementasan di Studio Plesungan, Rabu (29/1/2025).

RADARSOLO.COM - Memadukan berbagai elemen gerak jadi sebuah pementasan seni penuh makna yang dijalani Kysha Ashreen. 

Suasana redup nan hening menyelimuti Studio Plesungan, Rabu (29/1/2025) sore. "Inhale, empat, tiga, dua, satu", "exhale, empat, tiga, dua, satu", ucap Kysha Ashreen dengan suara tenang dan mantap di hadapan para penonton.

Desir nafas yang mengalun lembut pun muncul dari para penonton yang turut mengikuti arahan Kysha.

Memejamkan mata, mengatur napas sesuai hitungan, meresapi momen dengan kesadaran penuh.

Seolah setiap tarikan dan hembusan napas menjadi jembatan yang menghubungkan tubuh dan pikiran.

Setelah mengajak hadirin untuk ikut andil, Kysha mempresentasikan hasil residensinya dalam bentuk performance dengan judul "Boleh Bisa". Hanya ada liak-liuk tubuh yang bergerak dalam harmoni.

Gerakan mahasiswi Nanyang Academy of Fine Arts (NAFA) Singapura itu mengalir lembut. Tangan terentang, punggung melengkung, dan kaki menjejak lantai dengan keseimbangan.

Setiap transisi dari satu gerakan ke gerakan lainnya tak terburu-buru. Seakan tubuhnya memahami bahwa keindahan bukanlah tentang kecepatan, melainkan tentang ketepatan, kesadaran, dan kecintaan.

Gerakan-gerakan Kysha (karya work in progress) muncul setelah melakukan perjalanan di Solo selama dua pekan.

Sepanjang residensi, Kysha menghampiri sejumlah tempat. Seperti kelas yoga,yang merupakan basic Kysha, hingga ke Pura Mangkunegaran.

"Latar belakang saya dari yoga. Di Singapura, gerakannya sangat cepat. Lingkungannya juga sangat kuat dan energik. Saat saya melihat di beberapa tempat Indonesia, gerakannya lebih tenang dan lebih banyak mendengarkan tubuh," ucap Kysha kepada Jawa Pos Radar Solo.

Selama residensi, Kysha juga dibantu oleh komunitas Studio Plesungan dan orang yang ditemui.

Bagi Kysha, mereka membantu menginspirasi bagaimana menggunakan tubuh untuk menciptakan sikap ekspresif.

"Jadi saya pergi ke kelas yoga, kemudian ke Mangkunegaran dengan kelas tarian Jawa, dan semuanya ada bedanya. Saya bukan orang tari, tapi saat melihat dan mencoba tarian itu saya merasa sangat terpukau," ucap Kysha.

Kysha melihat para penari mengalunkan tubuhnya dengan konsentrasi tinggi. Tanpa berpikir untuk menjadi yang terbaik ataupun memaksakan diri, mereka melakukannya karena mereka menyukainya.

"Mereka melakukannya karena jatuh cinta terhadap budaya," tutur Kysha.

Sementara itu, Kysha datang ke Solo dengan dua rekannya, Clea Soebroto dan Nur Izzah. Ketiganya menjalani program artist in residency selama dua pekan di Studio Plesungan.

"Saya datang ke sini karena saya adalah performance artist, sama dengan Mba Melati (Suryodarmo, Direktur Studio Plesungan). Saya tahu bahwa Mba Melati memiliki komunitas yang kuat di sini. Dia menginspirasi saya untuk datang ke sini. Jadi sebenarnya saya diminta oleh Clea untuk datang dan bergabung dalam residensi ini," tambah Kysha.

Sementara itu, Staf Studio Plesungan Annastasya Verina turut menjelaskan, tiga mahasiswi sudah melakukan public presentation, rangkaian kegiatan dari program Residensi.

Setiap tahunnya, Studio Plesungan membuka peluang residensi bagi seniman yang sedang melakukan riset atau ingin mengembangkan minat mereka dengan terhubung ke berbagai sumber daya budaya di Jawa, khususnya Solo dan sekitarnya.

"Nah biasanya di akhir masa residensi ini, mereka mempresentasikan hasil riset mereka, apa yang mereka temukan, lalu refleksi apa yang muncul, lalu juga sharing kekaryaan mereka," papar Verina.

Verina menambahkan, setelah mendengarkan fokus riset masing-masing dari mereka, pihak Studio Plesungan mengarahkan untuk melakukan kunjungan ke beberapa museum, keraton, dan melihat beberapa pertunjukan tari dan wayang di Solo.

"Hal ini diharapkan mampu membantu mereka memperluas atau bahkan mengerucutkan riset mereka. Namun tawaran ini kami kembalikan ke teman-teman, karena pasti seiring berjalannya waktu mereka menemukan yang lain yang mungkin lebih relevan. Lalu juga ada konsultasi singkat dengan Mba Melati," tutur Verina.

Disinggung soal penerapan pada karya ketiga peserta, Verina mengaku dirinya belum mengetahui lebih lanjut. Mengingat hasil ketiganya masih bersifat work in progress.

"Kalau diterapkannya akan seperti apa saya belum tahu karena memang ini masih proses awal sekali. Dari perbincangan saya dengan Kysha, dia ingin mengalami pengalaman tubuh yang lain. Dia juga riset soal hubungan tubuh dengan ruang. Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar dia mencoba mengalami tari Jawa, karena konsep tubuh dan ruang juga sangat kuat dalam tradisi tari Jawa," tambahnya. (nis/nik)

 

 

Editor : Damianus Bram
#Studio Plesungan #performance art #Kysha Ashree #pementasan seni #tari