Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

OM Lorenza, Bangkit dari Kevakuman dengan Dangdut Klasik, Fans Loyal Berkostum Jadul Jadi Magnet Hiburan

Iwan Kawul • Kamis, 6 Februari 2025 | 00:11 WIB
Lorenza Fans, para penggemar setia OM Lorenza yang tak hanya menikmati musik, tetapi juga membawa atmosfer jadul ke setiap pertunjukan.
Lorenza Fans, para penggemar setia OM Lorenza yang tak hanya menikmati musik, tetapi juga membawa atmosfer jadul ke setiap pertunjukan.

RADARSOLO.COM - Orkes Melayu (OM) Lorenza menghadirkan warna baru dalam dunia hiburan dengan mengusung konsep dangdut klasik, tanpa hentakan kendang koplo yang bertalu-talu.

Namun, bukan hanya musiknya yang menarik perhatian—para penggemarnya, yang akrab disebut Lorenza Fans, juga mencuri perhatian.

Suasana panggung berubah riuh setiap kali OM Lorenza tampil. Bukan hanya lantunan dangdut klasik yang menghipnotis, tetapi juga pemandangan unik di antara penonton.

Ya, para penggemar, yang menamakan diri mereka Lorenza Fans, datang mengenakan kostum jadul khas era 70-an, dengan celana cutbray, wig kribo, dan kemeja berkerah lebar.

Di tengah maraknya musik koplo yang mendominasi industri hiburan, OM Lorenza justru memilih jalur berbeda, membangkitkan kembali kejayaan dangdut klasik.

Tanpa hentakan kendang yang bertalu-talu, mereka menyuguhkan alunan khas era Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih, membawa pendengar pada nostalgia masa lalu.

Siapa sangka, keputusan ini justru menjadi daya tarik tersendiri dan mengantarkan OM Lorenza kembali ke puncak popularitas.

Bagi Murjiyanto, pemilik sekaligus pengelola OM Lorenza, perjalanan grup ini penuh lika-liku.

Sejak didirikan oleh Budi Aeromac pada 2007, OM Lorenza sempat merajai panggung hiburan, bahkan memiliki jadwal rutin di THR Sriwedari.

Namun, seiring berjalannya waktu, mereka vakum dan hampir tenggelam di tengah arus dangdut modern.

Hingga akhirnya, pandemi Covid-19 mengubah segalanya.

"Saat pandemi, kami tidak bisa manggung. Kami hanya latihan di rumah, memainkan lagu-lagu dangdut jadul. Iseng kami unggah ke media sosial, ternyata responsnya luar biasa," kenang Murjiyanto.

Siapa sangka, dari sekadar latihan santai, Lorenza justru menemukan kembali identitas mereka. Dangdut klasik yang hampir terlupakan, kini kembali berjaya.

Namun, ada satu elemen yang tidak disangka-sangka turut menyumbang kesuksesan mereka.

Mereka adalah Lorenza Fans, para penggemar setia yang tak hanya menikmati musik, tetapi juga membawa atmosfer lawas ke setiap pertunjukan.

Uniknya, komunitas Lorenza Fans tidak dibentuk oleh manajemen OM Lorenza, tetapi tumbuh secara alami.

Para penggemar dengan sukarela mengenakan kostum khas 70-an dan mengikuti pertunjukan Lorenza dari satu kota ke kota lain.

"Kami tidak pernah memberi uang atau support finansial ke mereka. Tapi luar biasa, mereka justru rela keluar biaya sendiri untuk mendukung kami," ujar Murjiyanto takjub.

Di antara penggemar setia, ada satu sosok yang menjadi ikon: Mas Glempo.

Ia adalah penggemar pertama yang selalu hadir di setiap latihan dan konser dengan pakaian khas jadul.

"Awalnya saya malu, siapa sih yang mau joget dengan pakaian seperti ini? Tapi saya cinta dangdut klasik. Pernah ingin berhenti, tapi teman-teman musisi justru melarang," ujar Mas Glempo.

Kini, kostum lawas yang dikenakannya telah menginspirasi ratusan penggemar lain untuk ikut bergaya serupa.

Selain Mas Glempo, ada pula Pakdhe Aris, seorang petani dari Karanganyar, yang begitu mengidolakan OM Lorenza hingga membeli wig kribo untuk melengkapi penampilannya.

"Saya jatuh cinta sejak pertama kali melihat mereka tampil. Sekarang, setiap kali saya joget di konser Lorenza, banyak yang minta foto bareng," katanya sambil terkekeh.

Seiring bertambahnya jumlah penggemar, Lorenza Fans kini memiliki struktur organisasi resmi, lengkap dengan koordinator wilayah di beberapa daerah seperti Jaten (Karanganyar), Tegalmade (Mojolaban, Sukoharjo), dan Ngombakan (Polokarto, Sukoharjo).

OM Lorenza bukan hanya sekadar grup musik dangdut, tetapi telah menjadi sebuah fenomena sosial.

Dengan keunikan konsepnya, mereka tak hanya menghibur tetapi juga menghidupkan kembali budaya dangdut klasik yang hampir terlupakan. Bagi Murjiyanto, ini semua bukan sekadar kebetulan.

"Kami percaya ini campur tangan Tuhan. Kami hanya menjalankan apa yang kami bisa dengan sepenuh hati. Dangdut klasik masih memiliki tempat di hati penggemarnya, dan kami ada di sini untuk menjaganya tetap hidup," ujar dia.

Dari panggung ke panggung, dari satu kota ke kota lain, OM Lorenza membuktikan bahwa musik bisa lebih dari sekadar hiburan—ia bisa menjadi identitas, nostalgia, dan perayaan budaya yang tak lekang oleh waktu. (kwl/bun)

Editor : Damianus Bram
#dangdut #musik koplo #klasik #Orkes melayu #om lorenza #Lorenza Fans #kostum jadul #cutbray