Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

STAGE: Dewi Arimbi di Wayang Orang Sriwedari, Kisah Cinta dan Pengorbanan Seorang Ibu

Mannisa Elfira • Senin, 3 Maret 2025 | 15:15 WIB
DRAMATIS: Pementasan Wayang Orang Sriwedari yang mengambil lakon Dewi Arimbi, Rabu (26/2).
DRAMATIS: Pementasan Wayang Orang Sriwedari yang mengambil lakon Dewi Arimbi, Rabu (26/2).

RADARSOLO.COM - Gelak tawa penonton menggema di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Rabu (26/2/2025) malam.

Perut mereka tergelitik menyaksikan lelucon punakawan. Tapi semua berubah tegang saat cerita inti kembali disuguhkan di panggung.

Malam itu, Dewi Arimbi adalah lakon utama yang dipersembahkan oleh Wayang Orang Sriwedari. Lantas, siapakah Dewi Arimbi itu? Dewi yang dalam pewayangan berwujud buto atau raksasa wanita.

Cerita ini bermula saat Arimbi bertemu dengan Bratasena atau Werkudara. Sejak pandangan pertama dia sudah jatuh cinta.

Namun, karena perwujudannya dari lahir hingga besar wujudnya adalah buto atau raksasa wanita, ditolak oleh Bratasena.

"Tapi dengan kesucian Dewi Kunti, ibu dari Bratasena itu bisa merubah atau menyempurnakan Arimbi sebagai wanita cantik. Setelah itu Bratasena baru menerima cintanya Arimbi," ucap Sutradara Rizal Surya saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di balik panggung.

Arimbi dan Bratasena pun mengikat janji suci lewat pernikahan. Dikaruniai lah seorang putra yakni Gatotkaca. Gatotkaca lahir dengan tali pusarnya yang belum putus, sudah beberapa tahun tali pusarnya belum mau putus.

"Akhirnya menyuruh Arjuna mencari kekuatan atau pusaka yang bisa memutus tali pusar tersebut. Akhirnya Arjuna mendapatkan pusaka Konta Wijaya Danu. Tapi di sisi lain, Arjuna hanya mendapatkan wadah dari pusaka itu. Tapi wadahnya mampu menigas atau memutuskan tali pusarnya," lanjut Rizal.

Memang putus, tapi wadah pusakanya malah masuk ke dalam tubuh si Gatotkaca. Ini memancing kemurkaan Bratasena. Datangnya Batara Narada, memberikan omongan bahwa itu akan menjadi sebuah kekuatan Gatotkaca nantinya.

"(Jadi jangan khawatir, itu bukan melukai tapi malah memberi kekuatan. Tapi apa yang menjadi omonganku tolong dicermati, besok kalau Gatotkaca sudah besar, berperang melawan musuh jangan sampai Gatotkaca bertemu dengan kesatria yang memiliki isi dari pusaka tersebut," tambahnya.

Mengapa demikian? karena isi dan wadah itu akan menjadi satu seperti halnya magnet. Di perang nanti, ada perang antara Gatotkaca dan Karna. Perang sengit terjadi, Karna kalah atas Gatotkaca, karena Gatotkaca memiliki 1.000 kekuatan untuk melawan siapapun.

"Tapi, si Karna tidak habis pikir bahwa dia masih memiliki pusaka bernama Konta Wijaya Danu dan inilah saatnya pusaka itu keluar. Akhirnya diarahkan ke Gatotkaca, wadah dan pusakanya bersatu, dan Gatotkaca tewas," lanjutnya.

Arimbi tak terima. Hingga menjerit dan berubah kembali menjadi raksasa. Dia tidak terima bahwa anaknya dibunuh oleh Karna.

"Maju ke medan peperangan, Karna mau dibunuh oleh Dewi Arimbi. Tetapi dihentikan oleh Prabu Krisna. Krisna memberi arahan, Karna jangan sampai mati di tanganmu. Karena dia yakin kalau Arimbi membunuh Karna, pasti Karna mati. Namun ada garis takdir bahwa Karna akan dibunuh seseorang, dan bukan Arimbi," jelas Rizal.

Dari sanalah, Arimbi paham dan luluh. Namun Arimbi yang mempunyai rasa iba, pada akhirnya Arimbi meninggal bersama anaknya.

"Arimbi ikut masuk ke dalam api suci Gatotkaca," imbuhnya.

Cerita ini memiliki pesan moral bahwa ketika wanita memiliki sebuah kesetiaan terhadap pasangan, anak, lingkungan, atau sesuatu, dia akan berpegang teguh pada kesetiaan tersebut. Melaksanakan yang dia inginkan.

"Ini juga salah satu keagungan dari seorang wanita, bahwa wanita tidak bisa dianggap remeh, wanita juga memiliki sebuah kekuatan baik lahir ataupun batin. Melindungi keluarganya," pungkas Rizal. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#Lakon #dewi arimbi #wayang orang sriwedari