RADARSOLO.COM - Jagat media sosial kembali diguncang dengan beredarnya sebuah rekaman suara yang diklaim berisi percakapan antara Ridwan Kamil dan seorang perempuan diduga Lisa Mariana.
Dalam rekaman berdurasi hampir 2 menit itu, terdengar permintaan uang sebesar Rp 2,5 miliar yang disebut sebagai "biaya tanggung jawab".
Video rekaman suara tersebut langsung viral dan menjadi sorotan warganet.
Rekaman itu pertama kali beredar luas di platform TikTok dan X (Twitter) pada Rabu (2/4/2025).
Dalam percakapan yang terekam, sosok perempuan yang disebut-sebut sebagai Lisa Mariana terdengar melontarkan permintaan uang dengan nada mendesak.
Ia juga menyiratkan ancaman akan menyebarkan bukti skandal perselingkihan jika permintaannya tidak dipenuhi.
"Gini aja bang, kalau mau beres, saya butuh Rp 2,5 miliar," ujar suara perempuan dalam rekaman tersebut.
Atas viralnya rekaman suara itu, Ridwan Kamil menegaskan bahwa anak yang disebut-sebut dalam Lisa Mariana tersebut bukan anak kandungnya.
Mantan Gubernur Jawa Barat itu juga menyatakan telah menyelesaikan permasalahan dengan Lisa Mariana secara hukum dan disertai kesepakatan tertulis.
"Itu bukan anak saya. Buktinya udah jelas kan. Kita kan juga udah buat perjanjian sebelumnya sudah ada hitam di atas putih, semuanya sudah dibereskan sejak dulu," ujar Ridwan Kamil.
Di sisi lain, rekaman suara yang jadi viral itu menuai respons beragam dari publik.
Sebagian netizen menduga rekaman tersebut menjadi bukti bahwa ada unsur pemerasan di balik hebohnya isu perselingkuhan yang menyeret nama Ridwan Kamil.
Namun, tidak sedikit pula yang meragukan keaslian suara dan konteks dalam rekaman.
"Aneh banget kok baru muncul sekarang, terlalu kebetulan," tulis salah satu pengguna media sosial.
"Kalau ini benar suara Lisa, harusnya diproses secara hukum, jangan cuma jadi bahan drama online," komentar netizen lainnya.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari Lisa Mariana mengenai keaslian rekaman tersebut.
Pihak Ridwan Kamil pun belum memberikan tanggapan lebih lanjut selain klarifikasi awal yang menyebut bahwa isu tersebut merupakan fitnah bermotif ekonomi. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria