RADARSOLO.COM - Kongamato, makhluk misterius yang terbang menyerupai kadal besar bersayap, telah menjadi bagian dari cerita misterius yang menghantui penduduk Afrika.
Dengan nama yang berarti "pembalik perahu" atau "penghancur perahu," Kongamato dikatakan memiliki kebiasaan menyerang kapal-kapal dan kano, menenggelamkannya serta menyerang siapa saja yang berada di area miliknya.
Dikenal karena penampakannya yang menakutkan, Kongamato terus memunculkan pertanyaan besar bagi para peneliti tentang keberadaannya.
Apakah ini hanya mitos atau benar-benar ada makhluk yang mengincar manusia?
Sejarah dan Asal Usul Kongamato
Kongamato dikenal di Afrika bagian selatan, terutama di daerah-daerah yang berbatasan dengan sungai dan rawa-rawa yang luas.
Nama "Kongamato" berasal dari bahasa setempat yang berarti "pembalik perahu," sebuah julukan yang diberikan karena kebiasaan makhluk ini yang dikatakan sering menenggelamkan perahu dan kano penduduk yang mengarungi sungai.
Baca Juga: Legenda Mahamba: Misteri Buaya Raksasa dari Sungai Kongo
Cerita pertama tentang penampakan Kongamato ini mulai tersebar luas pada abad ke-20, meskipun banyak orang mengaitkannya dengan cerita rakyat kuno yang sudah ada jauh sebelumnya.
Dalam banyak kasus, Kongamato digambarkan sebagai makhluk berbadan seperti kadal berwarna merah dengan sayap membran, yang memungkinkan makhluk ini terbang dengan lincah.
Tidak hanya penampakan visualnya yang mengerikan, tetapi sifatnya yang agresif membuat banyak orang takut untuk lewat di daerah-daerah yang menjadi tempat tinggal Kongamato.
Baca Juga: Legenda Cigau: Singa Emas Misterius dari Sumatra yang Hampir Menghancurkan Satu Dusun
Beberapa peneliti mengklaim bahwa Kongamato adalah makhluk yang berukuran besar, dengan rentang sayap yang bisa mencapai antara 1 hingga 30 meter.
Dengan tubuh yang mirip kadal dan paruh yang penuh gigi tajam, Kongamato seringkali dikaitkan dengan makhluk-makhluk prasejarah, seperti Pterosaurus.
Penampakan Kongamato
Kongamato pertama kali dilaporkan dalam catatan sejarah pada tahun 1923 oleh Frank Melland yang mempelajari kepercayaan masyarakat Kaonde di Zambia.
Mereka mempercayai adanya reptil raksasa bersayap kelelawar yang berterbangan di sekitar Rawa Jiundu.
Selama perjalanan melintasi sungai, sebagian orang Kaonde membawa jimat untuk melindungi diri mereka dari serangan Kongamato.
Saat Melland menunjukkan gambar Pterosaurus kepada penduduk setempat, Ia mendapatkan respons mengejutkan. mereka mengidentifikasi gambar tersebut sebagai Kongamato.
Ini menunjukkan bahwa Kongamato mungkin adalah hewan yang telah dikenal dalam budaya lokal jauh sebelum ilmuwan Barat mengetahui Pterosaurus.
Pada tahun 1925, Seorang jurnalis bernama G. Ward Price mendengar cerita tentang burung raksasa dengan paruh panjang yang menyerang orang di rawa-rawa Zimbabwe.
Ketika pria yang diserang oleh makhluk tersebut ditunjukan gambar Pterosaurus, Pria itu langsung berteriak ketakutan.
Laporan selanjutnya datang dari seorang insinyur yang bernama J.P.F. Brown yang melaporkan bahwa pada bulan Januari 1956, dia melihat dua reptil terbang di sekitar Mansa, Zambia.
Kedua makhluk tersebut memiliki tubuh sepanjang kurang lebih 1,5 meter dari paruh sampai ekor dengan ekor yang panjang serta bersayap dengan lebar hingga 1 meter.
Penampakan Kongamato berlanjut dengan laporan mengejutkan dari tahun 1957, ketika seorang pria dibawa ke rumah sakit di Mansa karena luka di dada.
Dia mengklaim bahwa diserang oleh burung raksasa yang berada di sekitar Rawa Bangweulu, Zambia.
Laporan-laporan ini semuanya menunjukkan bahwa Kongamato adalah makhluk yang sangat mirip dengan Pterosaurus, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan keberadaannya.
Namun, kesamaan yang ditemukan dalam deskripsi-deskripsi yang diberikan oleh saksi mata menunjukkan bahwa makhluk ini mungkin bukan sekadar mitos atau khayalan. (Per)