RADARSOLO.COM - Dalam folklore Jepang, Oni dikenal sebagai sosok yang menakutkan. Dengan ciri khas tubuh besar, bertanduk, bertaring tajam, dan membawa gada besi.
Asal-usul Oni dalam Catatan Tertua Jepang
Istilah "oni" sudah ditemukan sejak teks-teks tertua Jepang seperti Kojiki, Nihon Shoki.
Meski pelafalan "oni" diperkirakan berasal dari bahasa asli Jepang, kanji yang digunakan dalam teks-teks kuno berbeda-beda hingga akhirnya distandarisasi pada zaman Heian.
Gambaran visual oni mulai berkembang pada gulungan Buddhis tentang neraka, seperti Jigoku Zōshi dari akhir abad ke-12.
Sosok ini juga terpengaruh oleh ilustrasi dewa petir Raijin, misalnya yang ada di gulungan Kitano tenjin engi emaki dari abad ke-13.
Gambaran Fisik Oni
Dalam budaya kontemporer Jepang, oni sering digambarkan sebagai makhluk humanoid bertubuh besar dengan wajah berwarna merah, biru, hitam, atau kuning.
Mereka memiliki tanduk, cakar tajam, taring menonjol, serta membawa tongkat besi atau gada. Pakaian khasnya adalah cawat dari kulit harimau.
Secara umum, tanduk menjadi ciri paling definitif dari sosok oni sekarang. Penggambaran fisik oni tetap konsisten sejak ilustrasi awal sampai saat ini.
Baca Juga: Yokai Files 1: Kodama, Misteri Roh Penunggu Pohon di Jepang
Beberapa cerita oni dalam legenda Jepang
Kisah Legendaris Shuten Dōji
Salah satu cerita paling terkenal mengenai oni adalah legenda Shuten Dōji. Dalam teks Ōeyama Ekotoba dari abad ke-14, diceritakan Shuten Dōji tinggal di Gunung Ōe dekat ibu kota Heian (Kyoto). Dalam kisah ini, ia dan kelompoknya menculik wanita muda dari ibu kota.
Untuk menghentikan Shuten Dōji, Kaisar mengirim Minamoto no Yorimitsu (Raikō) dan anak buahnya. Dengan bantuan dewa-dewa yang menyamar sebagai orang tua, Raikō memberikan sake ajaib yang membuat mabuk para oni.
Baca Juga: Legenda Cigau: Singa Emas Misterius dari Sumatra yang Hampir Menghancurkan Satu Dusun
Setelah Shuten Dōji tertidur, Raikō memenggal kepalanya. Meski sudah terpisah, kepala Shuten Dōji tetap menyerang hingga akhirnya bisa dikalahkan. Akhirnya Raikō berhasil membebaskan para wanita yang diculik dan kembali ke ibu kota sebagai pahlawan.
Dalam legenda ini, oni digambarkan sebagai sosok jahat yang kejam, meski ada sisi lain yang menunjukkan mereka tertipu oleh manusia, Shuten Dōji bahkan mengkritik manusia sebagai pendusta.
Kisah Rakyat dan Oni dalam Cerita Populer
Selain legenda epik seperti Shuten Dōji, oni juga muncul dalam kisah rakyat yang disampaikan secara lisan di berbagai daerah Jepang.
Contohnya cerita dari Prefektur Yamanashi tentang seorang ibu yang sangat miskin terpaksa meninggalkan tiga anak lelakinya di hutan karena sudah tidak sanggup memberi mereka makan.
Ketiga anak itu kemudian mencari tempat berteduh dan menemukan sebuah gubuk. Seorang nenek tua yang tinggal di sana memberitahu bahwa rumah itu sebenarnya milik seekor oni yang akan segera pulang.
Tak lama kemudian, oni datang dan karena mencium bau daging manusia, ia mulai curiga.
Nenek itu berkata bahwa memang ada tiga anak yang datang, tapi mereka segera pergi setelah tahu si oni akan datang.
Oni pun memakai sepatu ajaibnya yang membuatnya bisa melompat jauh dalam sekali langkah dan pergi mencari mereka.
Baca Juga: Legenda Mahamba: Misteri Buaya Raksasa dari Sungai Kongo
Setelah gagal menemukan apa-apa, ia memutuskan untuk beristirahat dan tidur di jalan yang mungkin akan dilalui anak-anak.
Sementara itu, si nenek menyuruh ketiga anak itu kabur lewat pintu belakang.
Dalam pelariannya, mereka mendengar suara menggelegar seperti dewa petir, dan mendapati bahwa mereka berada didekat tempat si oni sedang tidur lelap.
Adik bungsu dengan hati-hati mencuri sepatu ajaib si oni, lalu menyerahkannya pada kakaknya. Sang kakak memakai sepatu itu, menggendong kedua adiknya, dan melarikan diri terbang menjauh.
Tanpa sepatu ajaibnya, si oni tak bisa mengejar mereka. Ketiganya akhirnya selamat dan kembali ke permukiman manusia.
Cerita ini bernuansa ringan, menghadirkan sosok oni pemakan manusia yang sekaligus konyol dan mudah ditipu.
Kisah Momotarō dan Propaganda Perang
Kisah rakyat paling terkenal yang melibatkan oni adalah Momotarō.
Momotarō melakukan perjalanan ke Pulau Oni (Onigashima) untuk menaklukkan oni yang hidup di sana. Ia ditemani oleh anjing, monyet, dan burung, mereka berhasil mengalahkan para oni dengan mudah.
Kisah Momotarō sangat populer hingga digunakan sebagai propaganda pada masa kolonial Jepang dan Perang Pasifik, di mana oni diposisikan sebagai musuh asing.
Dalam sejarah dan budaya Jepang, oni merupakan yokai penting yang menjadi simbol bahaya, ketakutan, dan ancaman.(per)
Editor : Perdana Bayu Saputra